Pondok Pesantren Al Munawwir Gringsing - Batang

Ritual Kudus Para Backpack Traveler (Backpacker)


Backpack traveler (backpacker), dari namanya pasti sudah bisa ditebak, Yup.... turis yang suka jalan-jalan nenteng tas. Orang banyak mencela kaum backpaker sebagai turis kere (itu salah). Karena, jika dilihat lebih dekat, sebenarnya, mereka itu bukanlah turis kere (ya ada sih), tetapi turis yang sedang
melakukan ritual perjalanan suci dengan pola singgah sana singgah sini yang penting irit and happy. 
turis kere?? gag juga :D?
Seorang backpaker harus memiliki tujuan (kalau gag punya tujuan namanya orang gila luntang lantung kebingungan). Supaya bisa sampai tujuannya, mereka memerlukan strategi waktu dan perkiraan anggaran keuangan yang jitu. Maksudnya adalah mereka pergi dengan anggaran seminim mungkin tetapi mendapat pengalaman wisata semaksimal mungkin.
Backpacker kurang afdol rasanya tanpa tas ransel. Oleh karena itu, banyak orang bertanya kenapa lambang bendera kaum backpack traveler  bukan koper dorong apalagi plastik kresek melainkan ransel. Hal itu karena  backpack mempunyai banyak kelebihan dibanding kantong plastis kresek ataupun koper dorong, yaitu: praktis saat bergerak, tidak membutuhkan porter untuk memindahkan, dan tentunya menghemat biaya bagasi karena bisa masuk kabin pesawat (maklum backpacker kaya).
Backpacker sejati pantang memboroskan anggaran penginapan, transportasi, dan makan. Mereka lebih memilih tidur ditrotoar dengan selimut sleeping bag daripada menyewa hotel melati (manusia kelewat hemat). Bagi backpacker domestik (pelancong lokal), mie instan menjadi menu istimewa karena selain rasanya nyumi (ada: soto, rendang, kari, bakso, kalau bekicot ada gag?), harganya juga bersahabat dan dapat diperoleh di warung-warung terdekat. Selain itu, mereka juga tidak segan melambaikan jepol di tepi jalan demi sebuah tumpangan ala VVIP agar sampai ke tempat yang mereka dambakan (read: mbonekkkk) walaupun harus rela berbagi tempat dengan kambing, ayam, maupun  tumpukan karung pupuk kandang mereka tetao ikhlas kok (pernah lihat film Punk in Love? Ya kurang lebih seperti itulah).
Daripada jatuh mending naik angkot aja dek.... ingat keluarga menunggu di rumah!.
 Backpacker susah ditemui di obyek wisata mahal (kan musti irit). Namun kita mudah menemukan mereka di obyek wisata yang tidak banyak mengeluarkan uang (misal gunung, pantai, comberan ada gag ya? heheh). Untuk sekedar oleh-oleh buat bapak, ibu, embak, embah, eyang ataupun pacar, mereka tidak perlu membeli souvenir mahal, boro-boro membeli berlian berkadar 24 karat dengan bobot 1 gram, sticker 5.000an dengan bertuliskan nama obyek wisata yang mereka singgahi aja udah cukup apalagi disertai getuk, cendol, wajik pastil mereka tambah disayang keluarga. Apa yang dialami para backapacker (serba irit), senada dengan fatwa Bapak Annonimus “they are buying experience”. Kenapa Bapak tak dikenal itu memfatwa  kalimat itu?. Tentu saja karena karena ada prinsip dimana  pengalaman tidak bisa dibeli dengan uang apalagi dicuri (kan lumayan pengalamannya bolangnya bisa buat bahan diskusi jualan jamu swaktu ngopi dengan teman). Selain itu untuk menguatkan fatwa Bapak Annonimus, jurnal ilmiah dari sebuah Universitas ternama Indonesia yang khusus mempelajari pola perilaku backpacker mengatakan bahwa semakin banyak oleh-oleh yang mereka bawa pulang, akan membuat repot mereka sendiri dalam bergerak. Selain punggung semakin pegal karena menggendong beban yang tambah berat, membawa oleh-oleh terlalu banyak juga menghabiskan space dalam tas.  Tentu saja apabila tas ransel penuh, mereka harus membawa plastik kresek. Betapa tidak praktisnya itu jika kedua tangan mereka bersama-sama menyangking plastik kresek yang berisi gethuk, bakpia, cendol, cilot, dan aneka jajanan pasar lainya dari satu tempat ke tempat lain sambil menikmati indahnya obyek wisata (ohh noo,,,).
Oh,,, iyaa,,,, di Indonesia ini sebenarnya banyak tempat bagus lho. Tetapi sayang masyarakatnya kurang merawat dan mengembangkan daerahnya sebagai ikon wisatanya sehingga turis asing tidak mengenal potensi wisata daerahnya. Padahal, kalau pingin tahu sebuah rumus teori 2x<x sama dengan uang (tandanya kebalik tuh), semakin banyak turis asing yang mondar mandir ke daerah kita (berwisata), otomatis perekonomian di daerah itu akan berkembang. Jangankan banjir Rupiahh.... Euro Man.. yah kalau gag ada Euro, Dollar Amerikapun mau. Lumayankan, dikala Rupiah anjlok, kita bisa jual uang benua Biru and paman Sam itu. Kayalah kita (kalau punya banyak)
Garuda Wisnu Kencana- Katanya kalau sudah jadi, patung Liberty di NY kalah besarnya dengan patung ini
Patung kecil Anak Pipis (Manneken Pis)  ini menjadi magnet bagi jutaan turis mancanegara yang datang ke Belgia, wow kecil tapi sakti yah :D
Btw... Di Bali, kita punya patung super gede namanya patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), namun ketenarannya masih kalah dengan icon negara Belgia yang super mini, patung  Manneken Pis. Maneken Pis??? Yup... patung anak kecil pipis. Meskipun patung itu tidak lebih besar daripada patung GWK, tetapi patung itu menjadi magnet bagi negara itu untuk mengundang jutaan turis untuk berfoto di depanya (itu sama dengan banjir Euro). Yahhh apabolehbuat, kata orang-orang sih “a country is only as great as its people”. Kalau orang Indonesia tidak bangga dengan negaranya ( such as ikon wisata), gimana negara kita bisa dikenal orang mancanegara, coba????. (sedih) 
ciee... cieee... pacaran yaa? tapi kok sambil corat coret sih? norak tau..!
Yuk mulai sekarang, kita rawat, kita jaga, dan harumkan potensi daerah kita masing-masing. Boleh narsis, tapi jangan norak yah dengan mencorat coret batu dinding dan apapun dengan menyebut nama sekolah atau pacar kita. Bukannya sekolah kita jadi terkenal, eh malah bikin jijik orang liat itu sekolah.... okeee satu lagi, jangan ngrusak fasilitas and jangan ngotori tempat itu.. buanglah sampah pada tempatnya, kalau tidak bisa buang sampah pada tempatnya, berarti yang harus dibuang pada tempatnya ya kamu itu ...

Nyunting  jalan ceritera dari sebuah novel Negeri van Orange... Danke mas broo mbak sist heheheh    

Sumber gambar:
  • Backpacker- http://www.studentflights.com.au/travel-mag/2013/04/top-ten-backpacker-essentials
  • Manneken Pis- http://www.embassyofindonesia.eu/?q=node/262
  • Garuda Wisnu Kencana-http://en.tempo.co/read/news/2013/07/24/056499364/Garuda-Wisnu-Kencana-Statue-Project-to-Proceed
  • Bonek-http://putradwis.blogspot.com/2013/03/fenomena-masyarakat.html
  • aksi vandalisme-http://suarapetualang.blogspot.com/2011/05/aksi-vandalisme-merusak-keindahan.html

No comments

Powered by Blogger.