Rabu, 03 September 2014

Seharusnya Koruptor Dihukum Sama Beratnya Seperti yang Pernah Dirasakan oleh Eks. Tapol 1965 di Pulau Buru


Menjadi pemimpin memang tidak mudah, tetapi setidaknya mereka harus memberi contoh positif pada rakyatnya. Pola pikir negatif warisan kolonial Belanda di Indonesia harus segera dihapuskan. Karena pola pikir tersebut berpengaruh pada kebiasaan masyarakat yang melegalkan tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di kehidupannya. Malang memang, bagi mereka yang ingin melakukan pembaharuan, selalu dihadapkan pada arus deras yang sewaktu-waktu dapat menghanyutkan mereka. Takut hanyut itulah yang pada akhirnya memaksa mereka yang tadinya ingin membuat perubahan malah masuk ke dalam sistem yang dulu diperanginya itu.
Jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mau menelusuri cara pengangkatan pegawai negeri sipil dari bawah (pegawai golongan I- pejabat ekselon),  maka penjara-penjara di Indonesia akan penuh. Bagaimana tidak? Meskipun tidak semua yang ingin jadi Pegawai Negeri bertindak curang, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk menjadi abdi masyarakat, banyak diantara mereka yang harus lewat belakang (menyuap) agar mereka diterima sebagai pegawai. Ironis memang, pekerjaan yang seharusnya dapat diampu oleh orang-orang yang berkompeten dibidangnya karena adanya praktek suap, harus rela melepas pekerjaan itu ke tangan para penjahat yang tidak berkompeten. Hasilnya pasti negatif, seperti lamban mengurus surat di bagian administrasi, pungli di mana-mana dan korupsi di kantor-kantor pemerintahan.
Kembali lagi ke pembahasan manusia-manusia jahat tadi (pelaku koruptor dan suap). Sebenarnya hukuman apa sih yang cocok untuk mereka? Apakah hukuman mati atau hukuman kilat (yang tiap tahun mendapat remisi)?. Opsi pertama saya kurang setuju karena terlalu cepat mereka mati, maka mereka tidak akan merasakan penderitaan rakyat sama sekali. Opsi keduapun saya juga tidak setuju. Masa’, hukuman maling kelas kakap disamaratakan dengan maling kelas teri. Tidak fair kan?.
Keluar dari pokok pembahasan sejenak. Kemarin saya ngobrol dengan teman saya perihal masalah tahanan politik tahun 1965 (Tapol 65). Peristiwa yang terjadi tahun 1965 merupakan tragedi kemanusiaan paling berdarah yang pernah dialami bangsa ini. Rakyat Indonesia saling bantai karena perbedaan aliran paham politik. Entah mengapa, “peristiwa” yang awal mulanya hanya menimpa elit politik papan atas bisa merambat sampai ke akar rumput. Kebencian demi kebencian disulut di mana-mana yang akhirnya membakar hati rakyat. Puncak dari peristiwa 65 adalah pembunuhan masal terhadap pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun sayang, cerita sejarah hanya boleh ditulis untuk menceritakan kegagahan para pemenang, sehingga peristiwa 1965 hanya menampilkan sisi kegemilangan Suharto dalam menumpas PKI tanpa diceritakan dampak-dampaknya. Peristiwa 1965 memang menjadi masa kelam Indonesia, namun agar generasi muda Indonesia sadar akan kesalahan pemerintahannya pada masa lalu, sebaiknya peristiwa PKI dan dampak sebenarnya tidak dibekukan dalam sejarah Indonesia. Pembekuan sejarah sangat berbahaya bagi generasi muda ke depan karena mereka akan mengulang kesalahan bangsa Indonesia untuk ke dua kalinya.
Pembekuan sejarah merupakan sebuah dosa besar. Dosa tersebut pernah dilakukan oleh penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Alasan utamanya tidak lain adalah mereka tidak ingin rakyat Indonesia bangkit dari keterpurukan setelah mempelajari sejarah kegemilangan nenek moyang bangsa Indonesia di masa lalu (ex: kejayaan Majapahit, Sriwijaya, Kerajaan Islam Aceh, Kerajaan Mataram Islam dengan tokoh Sultan Agung dan pemberontakan Diponegoro). Sama halnya dengan bangsa Eropa sebelum Renainsance. Mereka terkukung dalam sebuah peraturan yang membuat mereka menjadi bangsa tertinggal. Pasca renainsance dengan mempelajari kembali kegemilangan budaya nenek moyangnya masa kuno mereka mulai bangkit. Kemudian mereka banyak menciptakan inovasi diberbagai bidang yang menjadikan mereka saat ini sebagai bangsa maju di dunia.
Lalu, apa hubungan antara penghapusan pembekuan sejarah terhadap hukuman yang pantas bagi pelaku KKN?  Seperti yang saya sampaikan di atas, pembekuan sejarah merupakan dosa besar. Meskipun dosa besar, ternyata bangsa Indonesia pasca kemerdekaan pernah melakukan dosa itu. Pemerintah Suharto meniru cara Kolonial Belanda dalam membodohi rakyat. Dngan mengatas namakan Pancasila, dia  menyingkirkan lawan politik  dan mengkebiri pendukung lawan politiknya dengan cara jinak yaitu dengan memanfaatkan perbedaan aliran paham politik untuk melanggengkan kekuasaan. Ideologi Pancasila memang tidak salah, tetapi yang salah adalah orang yang menggunakannya sebagai tameng untuk melanggengkan kekuasaan. Penghapusan sejarah kontra Pancasilapun akhirnya dimulai dengan pembekuan sejarah keji Orde Baru.
Bagi pecinta mata pelajaran geografi SD-SMP tahun 1999-2007 pasti tahu di mana letak pulau Buru, namun ketika ditanya sejarahnya, pasti mereka tidak ada satupun yang mampu menjawab. Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar yang berada di Kepulauan Maluku, setelah Pulau Halmahera dan Pulau Seram. Dahulu Pulau ini digunakan oleh Pemerintah Rejim Suharto untuk membuang Tapol 65.
Pasca Pemberontakaan PKI, Presiden Sukarno tumbang.  Pulau Nusa Kambangan dijadikan oleh antek Suharto sebagai penjara bagi ribuan simpatisan PKI (maupun yang dituduh sebagai PKI) dari Jawa Tengah.  Mungkin karena jumlahnya sangat banyak, penghuni Nusa Kambangan akhirnya banyak yang dipindahkan ke Pulau Buru.
Pada tanggal 19 November 1970, sekitar 750 Tapol siap dipindahkan ke Pulau Buru dengan KM Tobelo. Kapal tersebut memerlukan enam hari pelayaran dengan menempuh jarak lebih dari seribu kilometer dari Samudera Hindia hingga sampai ke Pulau Buru.
Suharjoso sewaktu menajdi tahanan politik di Pulau Buru
Tanggal 26 November KM itu sudah tiba di Pulau Buru. Tapol-tapol tadi kemudian diturunkan di sebuah pelabuhan yang terletak di Teluk Kayeli. Dengan penjagaan ketat oleh militer dan petugas kejaksaan,mereka kemudian digiring ke Unit Transito. Unit tersebut terletak di Desa Jiku Kecil. Selama perjalanan agar gerakan mereka dapat dengan mudah diawasi oleh para penjaga, mereka dibariskan dalam formasi berbaris lima-lima. Tanpa alas kaki mereka harus berjalan di atas kerikil tajam dan kepingan-kepingan batu karang juga sengatan terik matahari dan hantaman bogem metah dari pengawas sebagai sambutan selamat datang bagi mereka di Pulau Buru. Akhirnya, setelah mereka berjalan 3 km, sampailah di Unit Transito pada lepas tengah hari. Kemudian mereka ditempatkan di sebuah Barak yang sekelilingnya dipagari dengan kawat berduri.
Kerja Paksa Para Tapol digunakan Pemerintah Orde Baru untuk membuka hutan di Pulau Buru
Pada tanggal 29 November, mereka diapelkan di depan Barak Unit Transito. Seperti biasa, mereka harus lantang mengucap satu persatu sila Pancasila secara urut. Kemudian seorang Mayor CPM yang diketahui sebagai komandan Tefaat Buru membacakan kewajiban-kewajiban yang harus diemban bagi seluruh Tapol. Setelah upacara selesai, kemudian dari 750 orang yang berada di Unit Transito, diambil sekitar 436 orang untuk dipindahkan ke Unit IV Savanajaya yang terletak di kawasan Desa Sanleko.
Ternyata di Unit IV sudah ada penghuni lama dari dua rombongan terdahulu. Mereka yang menjadi senior di Unit ini adalah para Tapol kiriman tahun 1969 berjumlah sebanyak 110 orang dan tapol kiriman tahun 1970 (gelombang I) sebanyak 64 orang.  Dengan datangnya 436 orang dari kiriman gelombang II tahun 1970 ke Unit ini, maka populasi Unit ini total populasinya menjadi 610 tapol.
Seperti yang saya jelaskan di atas, pada mulanya Unit ini hanya dihuni 110 orang. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga korve bongkar muat kapal di pelabuhan Namlea. Bongkar muat isi kapal tidak membutuhkan banyak pekerja sehingga di Unit ini populasi tapolnya sedikit. Berbeda dengan Unit-Unit lain yang fokus pada bidang pertanian. Karena Unit Pertanian membutuhkan banyak tenaga sehingga berdampak pada jumlah populasi penghuni Unit Pertanian yang masing masing sebanyak 500-1500 orang.
Penghuni Unit Sanleko (korve darat) selain mengangkut barang dari pelabuhan, mereka juga dicadangkan sebagai tenaga pembuatan jalan. Mereka harus membuat jalan penghubung antara Namlea dengan unit-unit seluruh Tefaat. Nama jalan yang mereka buat itu kemudian dinamakan Trans Buru Highway. Trans Buru Highway mempunyai lebar antara enam hingga delapan meter, yang rencananya akan diuruk dengan pasir dan batu koral.
Unit Sanleko dahulunya merupakan hamparan padang alang-alang. Ketika para Tapol ini tidak diberi makan oleh petugas (kebijakan Suharto untuk tidak memberi makan para Tapol), mereka berusaha berswasembada pangan dengan menanam pohon singkong di bekas lahan alang-alang tersebut. Ternyata, singkong yang ditanam di sini hasilnya tidak mengecewakan. Melihat hasil tersebut, petugas pengawas Tefaat menjadi gelap mata. Akhirnya mereka berusaha menguras tenaga para Tapol ini untuk membuat proyek pertanian. Dengan waktu singkat hamparan alang-alang seluas 80 ha disulap menjadi lahan pertanian: ladang dan sawah. Pada musim tanam pertama mereka mampu membuka sawah seluas 10 ha. Kemudian pada tahun 1971, unit ini merayakan panen perdananya.
Hasiln panen tidak membanggakan. Dari 10 ha lahan sawah, hanya 4 ha saja yang bisa dipanen. Selebihnya hancur diserang wereng dan jamur.  Rata-rata tiap hektar dapat menghasilkan 2 ton padi basah. Menurut perjanjian semula sebelum membuka sawah, hasil sawah tersebut akan digunakan untuk keperluan makan tapol. Tetapi pada kenyataannya hasil panen tersebut diambil oleh petugas Tefaat, tanpa ada satupun tapol yang bernai protes.
Untuk menanggulangi kekurangan beras di Unit IV, Komandan Unit ini dengan licik kembali menguras tenaga Tapol untuk keuntungan pribadinya. Dan Unit tersebut memerintahkan sebanyak 80 orang perharinya untuk menggergaji kayu meranti yang banyak tumbuh di Pulau itu. Ia juga memerintahkan 40 orang untuk mencangkul lahan seluas 1 ha. Setiap hari para Tapol dapat memproduksi sekitar 240-280 lembar atau sekitar 4-5 kubik. Untuk 1 kubik papan meranti dengan ukuran 2 x 25 x 300 cm dihargai Rp. 2.500,00. Berarti, setiap hari uang yang dihasilkan oleh para Tapol sebanyak 10.000-12.500 dari sumber penggregajian saja. Namun sayang, uang yang seharusnya untuk membeli beras ternyata malah masuk ke kantong pribadi Dan Unit. Maka, kesengsaraan Tapolpun kian bertambah karena mereka tidak mendapatkan beras seperti yang dijanjikan oleh Dan Unit. Untuk makan sehari-hari mereka harus mengkonsumsi jagung, ketela dan singkong sebagai pengganti beras.
Pemerasan tenaga Tapol oleh Pemerintah juga terjadi saat kapal Tobelo merapat ke Pelabuhan Namlea. Kapal dengan bobot isi 700-900 ton harus dibongkar secepatnya dalam waktu 24 jam oleh 100-200 Tapol. Dengan diawasi oleh para mandor, mereka tidak boleh istirahat, bahkan waktu tidurpun dibatasi hanya dua jam, yakni antara jam 4-6 pagi. Setelah korve selesai, mereka juga harus memindahkan secepatnya isi kapal tersebut ke gudang-gudang Tefaat yang jaraknya sekitar 1,5 km dari dermaga. Tragis memang, meskipun mereka bekerja mati-matian mereka tidak mendapat sepeserpun dari hasil keringatnya.
Cara Suharto untuk menghukum eks. Tapol  sangatlah sadis. Para Tapol hanya dimanfaatkan tenaganya saja seperti tenaga hewan yang tak bernilai harganya. Tanpa bermaksud merendahkan harga diri para eks. Tapol dan juga menggali kenangan luka lama atas hukuman yang mereka timpa dahulu, sesungguhnya hukuman seperti yang pernah dirasakan para eks. Tapol 1965 sangat cocok diterapkan untuk para penjahat negara saat ini (pelaku KKN). Hal tersebut bukan tidak beralasan, tenaga para koruptor dan penyuap harus dieksploitasi habis-habisan sebagai ganti rugi kepada masyarakat karena perbuatannya. Tentunya mereka harus diawasi sungguh-sungguh supaya tidak kabur. Artinya selama mereka ditahan, mereka tidak bisa mendapatkan kenyamannan sedikit pun dari negara.
Jadi hubungan antara penghapusan pembekuan sejarah terhadap hukuman yang pantas bagi pelaku KKN adalah menkondisikan para pelaku KKN dengan apa yang pernah dirasakan oleh eks. Tahanan Politik Orde Baru 1965. 

Musuh kita saat ini adalah Koruptor dan Penyuap...! 
Maka, jadilah Agen Perubahan Bagi Bangsa ini dengan menolak KKN dikehidupan kita...!

Sumber Buku: 
  • Hesri Setiawan. 2006. Di Buru di Pulau Buru. Yogyakarta: Galang Press.
  • Gambar Pak Suharsojo- http://guruhdimasnugroho.blogspot.com/2012/12/gregorius-soeharsojo-goenito.html.
  • Derita Pulau Buru-http://visualdocumentationproject.wordpress.com/foto/pulau-buru/

Sabtu, 30 Agustus 2014

Mengenal Bawin Dayak (Perempuan Dayak)


Dari Aceh hingga Papua, Kalimantan Utara sampai Nusa Tenggara Timur, disitulah tempat lahirnya bangsa Indonesia. Indonesia adalah rumah bagi kemajemukan yang dapat dipersatukan menjadi sebuah bangsa. Banyak suku, budaya, bahasa, ras, agama dan komunitas, hidup membaur dalam Indah damai Indonesia. Perbedaan menghasilkan bermacam corak budaya. Budaya sebagai kearifan lokal berfungsi sebagai filter dampak negatif globalisasi. Sebagai filter dampak negatif globalisasi, budaya haruslah dipelajari nilai-nilainya. Salah satu budaya yang dapat kita pelajari nilai-nilainya adalah kebudayaan dari Suku Dayak yang bisa kita peroleh di Bumi Borneo.
Yup, kali ini saya akan mengupas sedikit tentang  Kedudukan, Fungsi, dan Peranan Perempuan Dayak, di Kalimantan Tengah.
Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata. Masyarakat Indonesia  sejak dari jaman purba hingga jaman post modern dikenal sebagai masyarakat yang mengedepankan keadilan (dalam musyawarah), hidup dalam aturan-aturan norma untuk jalan kebenaran, dan juga taat kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Begitu juga masyarakat Dayak, mereka menjunjung tinggi keadilan, kebenaran dan Ketuhanan
Dahulu,nenek moyang masyarakat Dayak pada umumnya hidup bebas di alam. Ditemani gemercik suara air sungai, aroma lumut dengan rimbun hijau daun pepohonan dan kicauan merdu burung-burung liar yang membuat mereka lebih dekat dengan Alam.
Masyarakat Dayak mayoritas bertempat tinggal di Pulau Kalimantan. Mereka terbagi ke dalam beberapa suku. Kemudian dari satu suku dibagi menjadi beberapa sub suku. Oleh karena itu, tidak aneh rasanya jika kita berkunjung ke sana meskipun masih dalam satu kawasan desa/kecamatan yang sama, kita akan menjumpai perbedaan yang mencolok terutama dalam perbedaan bahasa.
Sejarah merekam fakta bahwa sejak jaman dahulu perempuan Dayak asli yang berdomisili di provinsi Kalimantan Tengah telah diberi kepercayaan untuk menentukan sikap dan perbuatan mereka dalam menjalani hidup sehari-hari. Bukti itu dapat kita lihat saat kita berkunjung ke Kota Palangka Raya, ibu kota propinsi Kalteng. Di sana kita dapat menyaksikan sekian banyak nama perempuan dari generasi pendahulu Dayak yang namanya diabadikan sebagai nama jalan.
Foto barenga dengan Penari Suku Dayak.. heheheh
Seperti yang saya sampaikan diatas, masyarakat Dayak terbagi dalam beberapa suku dan subsuku. Sehingga sudut pandang mereka dalam memaknai kehidupan masing-masing suku tidak sama persis. Perbedaan itu meliputi bahasa, ritus, simbol, dan gaya hidup. Namun dibalik keberagamaan tersebut, secara garis besar mereka memiliki filosofi yang sama.
Perempuan di mata masyarakat Dayak sangat dihargai keberadaannya (baik oleh laki-laki maupun hukum adat). Apabila ada seseorang yang berani melecehkan harga diri Perempuan Dayak, sama artinya dengan mereka menantang perang. Suku Dayak mempunyai jiwa solidaritasnya tinggi. Baik muda-mudi Dayak bersedia berkorban untuk kepentingan bersama termasuk saat membela harga diri/nama baik keluarga/sukunya (read: maju perang).
Masyarakat Dayak pada umumnya sangat ramah. Hal itu dapat diketahui dari cara mereka menjamu tamu yang menginap ke rumah mereka. Sang tamu akan dilayani dengan baik. Contohnya  ketika sang tamu ingin buang hajad ke kamar kecil (WC). Mereka (pemilik rumah, bisa laki-laki/perempuan) dengan senang hati akan mengantarkan sang tamu tersebut  ke WC.  Perlu diingat, gambaran masyarakat  Dayak masa lampau, pada umumnya mereka tidak membangun kamar kecil di dalam rumah, melainkan di tepi sungai. Oleh karena itu, agar sang tamu  tidak tersesat di hutan maupun hanyut di sungai pemilik rumah harus mengantarnya. Kebaikan mereka dengan melayani sang tamu, jangan disalah artikan dengan bersikap seenaknya/semena-mena (misal: menggoda anak gadis keluarga pemilik rumah, mencuri, dan tindakan antisosial lainnya). Apabila  sikap tamu tadi tidak terkontrol dan dianggap tidak sopan, mereka tidak segan mengusirnya atau menyerahkannya kepada Kepala Kampung maupun Kepala Adat untuk dihadapkan pada sebuah Musyawarah Adat.
Sejak usia balita, Perempuan Dayak sudah diajarkan untuk menjaga perkataan. Mereka percaya bahwa setiap kata yang terucap mengandung risiko. Misalnya, apabila mereka tidak ingin mati tenggelam di sungai, mereka pantang mengucap buseng (arti: mati tenggelam). Melihat kondisi masyarakat (terutama di kota besar) saat ini, setiap orang dikejar-kejar oleh batasan waktu dimana mereka harus menyelesaikan beban tugas secepat mungkin. Hal itu tentu akan berdampak pada kejiwaan seseorang, bisa depresi, frustasi sampai gila.
Tekanan hidup dapat membuat seorang Ibu berkata seenaknya kepada anaknya. Mereka bahkan tega memaki anaknya dengan makian negatif seperti goblok, bodoh, pemalas, dungu, dsb. Sebenarnya, tanpa mereka sadari, ucapan yang keluar dari mulut mereka mengandung doa dan harapan kepada sang anak. Supaya tidak menimbulkan effek negatif, kontrol ucapan orang tua harus benar-benar dijaga meskipun mereka sedang dalam keadaan marah kepada anaknya.Perkataan-perkataan negatif seperti itu pantang diucap perempuan Dayak karena akan menimbulkan dampak.
Beberapa contoh peran Perempuan Dayak, antara lain adalah sebagi Balian. Balian adalah seseorang yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dan mahluk yang keberadaannya tidak dapat dilihat dengan mata jasmani. Balian menyampaikan permohonan dari manusia kepada Ranying Hatalla (Yang Maha Kuasa) dengan perantara ruh yang telah menerima tugas khusus dari Ranying Hatalla untuk mengayomi manusia. Tidak semua orang dapat dipilih menjadi Balian, tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai keistimewaan saja.
Keterlibatan Perempuan Dayak dalam kehidupan bermasyarakat dapat kita saksikan di dalam pertunjukan seni tari. Ada banyak tarian dari Kalteng antara lain  Tari Dandang Tingang dan Tari Wadian Dadas. Tari Dandang Tingang berasal dari Kabupaten Kapuas. Tari ini merupakan jenis tarian gembira. Dandang artinya bulu ekor burung sedangkan Tingang merupakan burung Enggang. Disebut tari Dandang Tingang karena penari menari sambil memegang tongkat yang ujungnya dihiasi (ditancapi) bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini dipertunjukan saat membangun (mendirikan) tiang pertama pada Rumah Betang. Selain itu masih ada Tari Wadian Dadas yang melukiskan seorang dukun Perempuan mengobati seseorang yang sakit dengan memanggil roh jahat yang menunggu si pesakitan kemudian memanggil kembali roh si pesakitan kembali ke badan, sehingga si pesakitan berangsur-angsur akan sembuh. Biasanya tarian ini dipentaskan pada upacara pernikahan maupum saat menyambut tamu kehormatan.

Bangsa Indonesia memang kaya akan budaya. Setiap suku mempunyai kearifan lokal khas yang berbeda dengan lainnya. Dari kearifan lokal tersebut, kita dapat belajar dari budaya mereka tentang nilai-nilai kehidupan yang dapat diaplikasikan ke dalam hidup kita.
Demikian yang dapat saya ceriterakan mengenai sosok Bawin Dayak (Perempuan Dayak). Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya tulis di sini terutama tentang Dayak Woman and Custumary Law. Berhubung keterbatasan pengetahuan saya dalam memahami singer, daripada salah tafsir yang dapat merugikan masyarakat luas mending saya konsultasikan dalu dengan sahabat-sahabat saya dari Kalimantan.

Danke.... Kuiiiiiiiiiiiyy..... heheheh

Sumber Buku:
  • Riwut, Nila. Bawin Dayak; Position, Function, and Roles of Dayaknese Woman. Galangpress Pub., Yogyakarta, 2011.

Grebeg Kendalisodo Sebagai Wujud Pelestarian Budaya dan Media Inovatif untuk Sosialisasi Ideologi Bangsa

Prolog...!
Awal mula perkenalanku dengan Grebek Kendalisodo dimulai tahun 2012. Waktu itu, aku dan teman-teman seangkatanku (12 orang) mendapat tugas final makul Metodologi Penelitian Sosiologi-Antropologi. Oleh dosen kami Pak T, kami disuruh membuat proposal penelitian tentang masyarakat dan kebudayaan (untuk latihan skripsi).
Seingatku, waktu itu aku bikin proposal penelitian tentang Tawuran Pelajar di Kota S (samaran), James (Bang Jem) tentang Pengobatan Tradisional Dayak Kanayatn, Landak Kalbar, Aris (Mbahe) tentang Anak Jalanan di Kota Amb (samaran), Logos tentang Alih Fungsi Hutan Adat menjadi Perkebunan Sawit di Sangg, Kalbar (samaran), Eko (Kentus) tentang Faktor punahnya tarian Jalantur di Dusun Gowok Pos, Dukun, Muntilan (mungkin juga punahnya Jalantur dari dunia), dan Adit (Bre) tentang Grebek Kendalisodo, Bawen.
Well, langsung saja ke pembahasan judul yang tertera diatas.
Apa itu Grebeg Kendalisodo?
Grebeg Kendalisodo adalah sebuah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Karangjoho. Masyarakat mengarak hasil bumi yang ditata menyerupai gunngan, sabit, pacul dan garuda Pancasila keliling desa-desa di sekitar lembah Kendalisodo. Puncak dari acara ini adalah penjamasan lambang negara Indonesia (Burung Garuda Pancasila). Selain penjamasan terhadap burung garuda juga dilakukan penjamasan terhadap sabit dan cangkul. Sabit dan cangkul merupakan simbol kemakmuran masyarakat Karangjoho karena sebagian besar masyarakat Desa itu berprofesi sebagai petani.  
Dimana Grebeg Kendalisodo diadakan?
Grebeg Kendali Sodo diadakan di Desa Karangjoho. Wilayah Karangjoho secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang Jawa Tengah.
Apa yang melatarbelakangi diadakannya Grebeg Kendalisodo dan Jamasan Pancasila?
Diadakannya Grebeg Kendalisodo di Desa Karangjoho tidak terlepas dari legenda Hanoman yang menguasai Gunung Kendalisodo. Sebenaranya, kata gunung yang melekat pada nama Gunung Kendalisodo hanyalah sebuah istillah saja, karena Gunung Kendalisodo bukan berwujud gunung sungguhan melainkan hanya sebuah bukit kecil yang terletak di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Gunung yang terbentuk dari letusan Gunung Api Ungaran purba ribuan tahun yang lalu ini dipercaya oleh warga sebagai tempat tinggal Hanoman (Kera Putih).
Hanoman adalah anak Bathara Guru dari istri Anjani. Sebelum jadi Resi Mayangkara, Hanoman kecil pernah menyucikan dirinya di Sendang Cupumanik. Dari Sendang Suci itu, ia mendapat kesaktian yang luar biasa.
Kesaktian Hanoman tidak perlu diragukan lagi. Selama perang Antoro, Hanoman mampu mengimbangi kekuatan pasukan Prabu Dasamuka. Setelah perang Antoro yaitu perang antara Prabu Rama Wijaya melawan Prabu Dasamuka berakhir, kemudian Hanoman mengabdikan dirinya untuk Prabu Sri Bathara Krisna. Prabu Sri Bathara Krisna memerintah Hanoman untuk tinggal di Gunung Kendalisodo. Alasannya adalah untuk menjaga kententraman manusia dari angkara murka.   
Apa Hubungan Sendang Cupumanik dengan Jamasan Pancasila?
Jamasan Pancasila bertujuan untuk menyucikan Pancasila (Lambang Negara Indonesia). Jamasan dilakukan di sendang kecil di Barat Desa Karangjoho. Mengingat legenda yang berkembang turun-temurun di masyarakat lembah Gunung Kendalisodo tentang keperkasaan Hanoman setelah menyucikan diri di Sendang Cupumanik, maka panitia penyelenggara dan masyarakat pendukung tradisi Grebeg Kendalisodo berharap setelah Pancasila dijamas, negeri Indonesia ini akan terbebas dari penyakit (kemerosotan moral: korupsi, kolusi, nepotisme). Jamasan bukan hanya dilakukan pada burung Garuda, melainkan juga pada cangkul dan sabit petani. Cangkul dan sabit merupakan simbol kesejahteraan penduduk karena mayoritas penduduk Karangjoho berprofesi sebagai petani. Setelah simbol masyarakat agraris itu dijamas, mereka berdoa agar tanah di lembah Kendalisodo diberi kesuburan juga diberi kemudahan air oleh Yang Maha Kuasa supaya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama.
Kapan Grebeg Kendalisodo pertama kali diadakan?
Pada tanggal 10 Sura 1419 H (1997 M), cikal bakal Grebeg Kendalisado pertamakali digelar. Awalmulanya Grebeg Kendalisodo dikenal dengan nama Sedekah Bumi Kendalisodo. Acara ini difokuskan hanya di Sendang Cupumanik. Waktu itu yang menjadi Kuncen Gunung Kendalisodo dan Sendang Cupumanik adalah Eyang Marsidi. Eyang Marsidi mengajak segenap masyarakat sekitar Sendang agar mau bersedekah bumi dalam rangka Memayu Hayuning Bawono. Menurut Frans Magnis Suseno (1983: 51-52), Memayu Hayuning Bawono adalah sebuah sikap manusia yang tidak memaksakan diri pada sesuatu (orang, binatang, tumbuhan, batu atau sungai) tetapi mau menghormati, membiarkan berdampingan dalam irama tersendiri, dan bebas mencari kebebasannya. Sikap ini sangat berbeda dengan sikap acuh tak acuh. Respon positif dari masyarakat terhadap acara Grebeg Kendalisodo ditunjukan dengan banyaknya masyarakat membawa jajanan pasar, buah-buahan dan sesaji ke Sendang Cupumanik. Hingga tahun 1998, acara selamatan di Cupumanik masih berlanjut. Perubahan kegiatan acara dimulai tahun 1999. Acara yang biasanya hanya berlangsung di Cupumanik, mulai tahun itu semakin semarakan dengan  adanya kegiatan grebeg (semacam pawai) mengelilingi desa-desa di sekitar Gunung Kendalisodo. Grebeg Kendalisodo berbeda dengan grebeg-grebeg di daerah lain. Biasanya, grebeg hanya mengarak tumpengan atau pusaka kramat saja. Namun, yang menjadi keunikan dari grebeg Kendalisodo adalah peserta grebeg mengarak burung Garuda Pancasila ke desa-desa yang berada di lembah Kendalisodo dengan puncaknya adalah jamasan burung Garuda Pancasila di Cupumanik. Kemudian  dilanjutkan dengan acara rebutan gunungan oleh warga dan makan bersama di sana.
Apakah ada nilai-nilai kemanusiaan dibalik terselenggaranya Grebeg itu?
Grebeg Kendalisodo sebenarnya mengandung banyak nilai kemanusiaan. seperti Ketuhanan, Kerukunan, Gotong-royong, Nasionalisme dll. Sebagai contoh semisal nilai Ketuhanan. Masyarakat pendukung Grebeg ini percaya dengan diruwatnya simbol kesejahteraan mereka (cangkul dan sabit ‘arit’), Tuhan Yang Maha Esa akan memberi kesejahteraan berupa kesuburan tanah dan melimpahnya air untuk mendukung kegiatan ekonomi mereka. Nilai Kerukunan dapat dicerminkan dari berbaurnya masyarakat luar desa yang mayoritas menjadi penonton Grebeg dengan masyarakat Karangjoho. Nilai Gotong-royong, dilihat dari kerjasama dalam membuat gunungan. Membuat gunungan tidaklah mudah, karena itu diperlukan kerjasama (baik jasa/materi) agar gunungan dapat terisi penuh dengan buah-buahan, sayur-sayuran dan jajanan pasar. Nilai nasionalisme, dapat dilihat dengan arak-arakan lambang negara Indonesia. Secara laten Grebeg ini sebenarnya mensosialisasikan ideologi Pancasila kepada masyarakat khususnya anak-anak dan pemuda dengan kegiatan yang menarik dan cara baru (inovatif). Diharapkan selain mencintai budaya daerahnya (peserta parade ada Reog, Angguk, Jatilan, Grup Pencak Silat dll.),  mereka juga akan mencintai bangsanya.  
Kembali ke Alur Ceritera!
Yuppp... setelah satu tahun observasi, kita memasuki tahun baru yakni 2013. berikut ini merupakan ceritera Grebeg Kendalisodo (GKS) tahun 2013. 
Gak perlu panjang lebar, langsung pada intinya saja. Saat itu aku dan Mbahe diajak Bre bantu  penelitian Skripsinya... Kami siapkan 5 kamera untuk menyambut datangnya acara ini (esok harinya 18 Nopeber). Namun, karena sibuk di basecamp (rumah Pak Rahmad) kami lupa charge kamera yang kami bawa.
Malam Minggu, 17 Nopember 2013. aku dan kedua sahabatku mengikuti tirakatan di Sendang Cupumanik sekaligus mendengarkan arahan dari sang sutradara (Mbah Rahmad Kendalisodo)
nah ini dia sutradara dibalik pagelaran Grebeg Kendalisodo, Mbah Rahmaddddd....
Kira-kira jam 9.00 malam, Pak Bupati datang. Kemudian memberi sepatah dua patah kata...
Saya kurang paham siap yang menjadi juru kunci Sendang Cupumanik, sepertinya sih bapak ini...

Nah, ini yang namanya Adit (Bre). Entah mengapa, selama penelitian di sana dia fokus sekali menyimak percakapan bapak-bapak dan ibu-ibu. udah kaya wartawan aja Bre... bree...

Ingin merasakan khasiat Air Sendang Cupumanik, Aris (mbahe) membasuh muka di sendang itu. dan hasilnya...... tetap ganteng.
Ingkung, Kluban, Tempe, Gereh Teri... Nyumiiiii...!

Ibu (temanya bu Dayu) membagikan telo-pogong-kacang hasil alam Desa Karangjoho kepada hadirin.

Makan Bersama

Dahar nopo kalih napa mbah??

Bu Dayu and friends dahar pincukan

Pak Bowo (Dinas Pariwisata) memotong tumpeng setelah didoakan bersama (doa Islam, Hindu, Kejawen)

Enak ora brow?
 Esoknya, acara Grebeg Kendalisodo dimulai. Seperti biasa, kita dandan ala wong Jowo...
podo ngomongke opo to mas? mbok ya cepet ganti pakean...

Selama dua periode (GKS 2012 dan 2013)  mbah ini tidak pernah ketinggalan merayakan GKS...

Desa Karangjoho masih sepi karena strart diawali dari dekat RS Ken Saras
 Lalu kami diangkut dengan Colt Brondol L 300 menuju tempat dimulainya grebeg berlangsung. Aku tidak tahu nama daerahnya. tapi sepanjang jalan, yang aku temui adalah sawah, kemudian masuk ke pemukiman padat.
Nah, disini grebeg KS dimulai... heheheh
ati-ati yo mas, abot songgone kwi... heheheh
Kemudian kami berjalan sepanjang 4 kilometer bahkan lebih. sengaja kami tidak memakai sandal agar terlihat ampuh and sakti mandraguna,,,,
hahah dapat pinjaman bendera. lumayan buat narsis "meskipun fokus kameramen ke mobil oprut itu :( "....

yah kurang lebih beginilah kondisi kami, nyeker biar keliatan ampuh... heheheh
Setelah berjalan 4-5 KM, kami sampai di pertigaan Karangjoho. Di sana mbah Rahmad, Bu Dayu, Pak Camat membacakan sambutan-sambutan. sayang file dalam bentuk video, jadi tidak bisa dipampang. ada sih sudah aku upload video itu di fb. mulai dari awal sampai akhir berdurasi 8 menit. silakan klik VIDEO GREBEG KENDALISODO 
Tangan Bre bergetar (alias Tremor) maklum sudah mbah-mbah

Ubo rampe buat ritual... heheheh
  Kemudian kami berjalan bersama ke Barat menuju Sendang Cupumanik. Dari pertigaan desa Karangjoho menuju ke Sendang jaraknya sekitar 500 meter.
Setelah di doakan para imam dengan doa lintas agama, Burung Garuda Pancasila dijamas (dimandikan), anak-anak sangat antusias menyaksikan jamasan Pancasila ini. Bu Dayu menyorakan "MERDEKA", anak-anak membalas dengan sorakan yang sama "MERDEKA" 

Baik di dalam ruangan dan di Pelataran Sendang Cupumanik, gunungan setelah di doakan menjadi rebutan warga. dalam waktu 1 menit, gunungan sudah habis diperebutkan.

Dari Kiri (Pak Bowo, Aku, Pak ?, Bu Ida Ayu (Dayu), Pak ?, Adit Brengos, Mbah?). Tanda ? berati aku tidak tahu nama-nama beliau.

Nah, dibalik gambar-gambar ini ada peran mbahe untuk mendokumentasikannya.
 Setelah acara puncak, dilanjutkan dengan hiburan rakyat seperti jatilan, reog, kuda lumping, pertunjukan pencak silat, campur sari dll. di pertigaan Desa Karangjoho
Reog bukan, topeng ireng juga bukan. aku namakan sendiri saja seni tari Gatotkaca

Sebelum digunakan untuk pentas, topeng terlebih dahulu diasapi dengan dupa

Nah kalau ini Reog tanpa kuda... heheheh

Penonton sangat antusias menyaksikan pertunjukan kesenian rakyat, meskipun harus hujan-hujanan.

Ampun Reog...

santai belum kesurupan...
Grebeg Kendalisodo yang diadakan di Desa Karangjoho, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang ini sebenarnya bisa dijadikan aset Pariwisata Kabupaten Semarang. Namun sayangnya, Publikasi even ini tidak segencar even-even lain semisal Dieng Culture Festival. Semoga dihari kedepan Publikasi Event bisa dilakukan jauh hari sebelum acara dimulai supaya bisa mengundang banyak wisatawan yang berminat menjadi partisipant dalam event ini.
Acara ini resmi ditutup pada pukul 6.00 sore...  Upsss... sebelum aku akhiri cerita ini, aku ajak saudara-saudara sekalian kembali lagi ke masa lampai yakni 3 jam sebelum acara ini resmi ditutup...
Gak usah dipikir sepaneng, monggo ududdd dulu...! :D

Sekian cerita dari aku hari ini... KENALI NEGERIMU CINTAI BUDAYAMU... Dankeee....... Bye byee :D?