Jumat, 18 Juli 2014

Peran Kyai Selama Revolusi Fisik di Tengaran (1947-1949)

       Setelah keluar “Resolusi Jihad” oleh fatwa Rois Akbar NU, K.H. Hasyim Asy’ari maka semangat membela kemerdekaan menggelora di penjuru tanah air.  Pemuda-pemuda Islam menggabungkan diri dalam pasukan Hizbullah, sedangkan orang-orang Islam kalangan awam bergabung dengan pasukan Sabilillah. Untuk mendampingi Hizbullah dan Sabilllah, ditunjuk para kyai yang tergabung dalam barisan Mujahidin.
Pada tanggal 5 Juni 1946, dibentuklah Hizbullah Divisi Semarang yang bermarkas di Salatiga. Komandan Divisi Semarang dipegang oleh Harsono. Divisi Semarang dipecah menjadi tiga resimen. Resimen Demak dipimpin oleh M. Moehdi, Resimen Purwodadi dipegang oleh Sudarsono, dan Resimen Semarang dipegang oleh Abdul Rozaq. Tugas dari masing-masing Komandan Resimen adalah (Tashadi, dkk., 1997: 59):
1.      Membentuk batalyon-batalyon di setiap kawedanan.
2.      Membentuk kompi-kompi Hizbullah di tiap-tiap kecamatan.
3.      Mengadakan mobilisasi pemuda-pemuda Islam di tiap-tiap kebupaten dan bekerjasama dengan para kyai yang saat itu tergabung dalam barisan Sabilillah.
4.      Mengadakan latihan kemiliteran dan mempersiapkan pasukan bila ada perintah maju ke front.
5.      Menggali dana berupa uang dan bahan makanan di daerahnya.
       Peran ulama selama perang mempertahankan kemerdekaan di Tengaran tidak dapat dipandang sebelah mata. Para ulama memberi kontribusi penting dalam menyediakan massa selama perang. Mereka menjadi tokoh panutan masyarakat karena mayoritas masyarakat Tengaran beragama Islam. Sejak proklamasi kemerdekaan mereka berpegang teguh pada prinsip anti penjajahan, sehingga Belanda menganggap bahwa ulama dengan pondok pesantrennya merupakan pusat perlawanan. Pada kenyataannya memang banyak pondok pesantren maupun masjid-masjid yang digunakan sebagai markas perjuangan dan pengkaderan pemuda untuk dijadikan pejuang.
Untuk Menghormati Pahlawan yang Gugur di Kecamatan Tengaran, Jalan Raya Semarang-Solo yang melintasi Kecamatan Semarang (antara Sruwen - Bener) diubah namanya menjadi Jalan Kyai Haji Mawardi
Di Tengaran, para kyai yang mengabdikan dirinya untuk membela kedaulatan Indonesia disatukan ke dalam pasukan Sabilillah. Pasukan Sabilillah Tengaran lebih dikenal dengan nama Barisan Kyai Tengaran. Mereka adalah Kyai Mawardi (pendiri Pasukan Clurut Tengaran), Kyai Zubair dan Kyai Khumaidi dari Pondok Tingkir Lor, dan Kyai Abu Ngamar dari Cabean (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 147).
       Sebagai imam dan anggota laskar, mereka tidak mendapat gaji dan juga tidak mendapat jabatan dalam pemerintah sipil maupun militer. Keikutsertaan mereka mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah murni karena mereka mencintai bangsa Indonesia. Semangat perjuangan dilandasi oleh semangat jihad fi Sabilillah, yaitu semangat berjuang di jalan Allah. Jihad fi Sabilillah tidak lain adalah semangat berjuang membela kebenaran yaitu membela tanah airnya dari kaum jahat, yaitu penjajah Belanda (Jarkoni, wawancara 28 September 2013 dan Wito Turut, wawancara 30 September 2013) .
       Kyai Mawardi merupakan pendiri sekaligus komandan pasukan Hizbullah (Pasukan Clurut). Dia berasal dari Solo dan mempunyai empat anak buah yang masing-masing dari mereka adalah kyai. Mereka yang setia kepada Kyai Mawardi adalah Kyai Saghoji, Kyai Bajuri, Kyai Amri, dan Kyai Dulbari. Kyai Mawardi tergabung dengan Barisan Kyai Tengaran. Dia mengumpulkan pemuda dengan cara mujahadahan dari masjid ke masjid. Mujahadahan pertama kali diselenggarakan di masjid Tengaran. Dalam kesempatan itu, dia berdakwah tentang jihad fi sabilillah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dari dakwahnya, ia memperoleh dua puluh pemuda. Lalu dari  dua puluh pemuda itu dibentuk pasukan bernama Hizbullah. Dikemudian hari nama pasukan Hizbullah diganti menjadi Pasukan Clurut (Mawardi, wawancara 3 Desember 2013) dan Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
       Untuk meningkatkan keterampilan anak asuhnya (anggota laskar Hizbullah) para kyai membina ideologi, kerohanian, dan jasmani anak asuhnya. Pembinaan ideologi dilakukan dengan cara menanamkan nasionalisme dan patriotisme. Mereka juga menekankan agar anak asuhnya selalu mencintai bangsanya. Penderitaan rakyat yang dibuat oleh Belanda harus segera diakhiri dengan jihad fi Sabilillah. Rasa senasib sepenanggungan dijajah Belanda melahirkan ikatan batin yang kuat antara pasukan Hizbullah dan masyarakat Tengaran, sehingga anak asuh para kyai berani berkorban demi masyarakat (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
       Kyai sebagai pemimpin spiritual juga memberi bekal spiritual kepada anak asuhnya. Bukan hanya anak asuhnya saja, tetapi juga pejuang non Hizbullah yang bertempur di Tengaran. Sebelum anak asuhnya bertempur, para kyai jauh hari telah mengasah kerohanian anak asuhnya dengan bermacam-macam doa keselamatan. Doa keselamatan bagi mereka yang paling umum sebelum terjun melaksanakan tugas adalah doa kebal peluru dan kebal senjata tajam. Mereka diharuskan puasa mutih selama tujuh hari. Puasa mutih beda dengan puasa dibulan Ramadhan.  Puasa mutih adalah berpuasa atau berpantang makan dan minum apa saja kecuali makan nasi dan minum air putih. Tata caranya hampir sama dengan puasa Ramadhan yaitu ada makan sahur dan makan buka puasa. Sahur adalah makan dipagi hari sebelum waktu sholat subuh sedangkan buka adalah makan disore hari menjelang detik-detik adzan mahgrib sebagai batasan puasa hari itu sudah usai. Puasa mutih hanya diperbolehkan memakan sekepal (segenggam) nasi putih dan segelas air putih. Sehabis waktu sahur ataupun buka, mereka tidak boleh makan apa-apa lagi hingga tujuh hari lamanya. Selama tujuh hari itu mereka juga harus menjaga kelakuan dan napsu duniawi. Sebelum anak asuhnya berangkat mengemban tugas, Kyai Mawardi selalu menyepuh (memberi doa) pada peralatan yang akan dibawa anak asuhnya mengemban misi dengan doa-doa keselamatan. Hal itu bertujuan untuk menguatkan moril mereka selama menjalankan tugas (Jarkoni, wawancara 28 September 2013 dan Subardi, wawancara 29 September 2013).
       Diluar kegiatan bertempur, pembinaan rohani sangat diutamakan kepada anak asuhnya seperti memupuk keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan kedisiplinan sholat lima waktu, sholat tahajud   dan hajat, mengaji, puasa senin-kamis, dan memberi pencerahan dari ayat Alquran maupun Alhadits. Markas Kaliwaru dijadikan sebagai pusat pembinaan moral dan akhlak pemuda Hizbullah Tengaran. Dengan semboyan “Hidup Mulya, Mati Sorga” anak asuh Kyai Mawardi tidak gentar melawan Belanda meskipun hanya bersenjatakan golok dan bambu runcing (Jarkoni, wawancara 28 September 2013). 
       Sedangkan di Cabean, Karangduren ada seorang kyai bernama Abu Ngamar. Dia adalah kunci keberhasilan gerilya pasukan Republik di daerah Tengaran bagian Utara. Pada waktu itu  para kyai mempunyai wibawa yang tinggi di mata masyarakat dan TNI. Mereka dipercaya oleh TNI untuk mengumpulkan massa maupun sebagai mata-mata di daerah Pendudukan. Gerilyawan yang akan menyerang pos Belanda di Kebonjeruk, mereka harus ijin Kyai Abu Ngamar dahulu. Apabila Kyai Abu Ngamar tidak mengijinkannya, gerilyawan tidak jadi menyerang. Kyai Abu Ngamar sangat dekat dengan TNI  karena  dia adalah mantan tentara jaman Jepang yang memberontak pada tahun 1945. Pergerakan Belanda di Kebonjeruk dimonitorinya dan rutin dilaporkan kepada pemimpin pejuang di Desa Tegalrejo. Kyai Abu Ngamar tahu persis keadaan Belanda di Kebonjeruk. Oleh karena itu, masalah pengaturan jadwal serangan TNI ke Kebonjeruk menjadi tanggung jawabnya. Setelah perjanjian Klero, Belanda mengadakan penangkapan besar-besaran terhadap penduduk yang membahayakan kedudukan Belanda. Kyai Abu Ngamar ditangkap dan rencana akan dieksekusi di Kedayon. Tetapi Kyai Abu Ngamar tidak jadi dieksekusi karena eksekutornya kenal dengan dia. Pada masa Jepang, eksekutor yang akan mengeksekusi Kyai Abu Ngamar pernah menjadi anak buahnya. Setelah Belanda menduduki Pulau Jawa, dia bergabung dengan KNIL. Akhirnya, Kyai Abu Ngamar selamat dari Kedayon kemudian ditahan di Nusa Kambangan karena dia dianggap sebagai Republikan yang berbahaya (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
       Garis demarkasi memperparah penderitaan penduduk yang tinggal di daerah Republik. Hal itu dimanfaatkan Belanda untuk merekrut mata-mata dari orang-orang Republik. Belanda menjanjikan bagi mereka yang dapat menangkap seorang TNI ataupun orang Republik yang berbahaya bagi Belanda akan mendapat hadiah uang. Karena desakan kebutuhan perut, banyak orang yang dahulunya Republik tergiur dengan tawaran Belanda tersebut. Orang Republik yang bergabung dengan  IVG adalah Kyai Ngusman. Pada tahun 1947, Kyai Ngusman adalah pejuang Republik yang militan memerangi Belanda. Kyai Ngusman masuk Barisan Kyai Tengaran dan membawahi Pasukan Clurut. Namun pada tahun 1948, dia terbujuk dengan rayuan Belanda karena mereka menjamin kehidupan yang layak bagi anggota IVG. Keikutsertaan Kyai Ngusman ke dalam IVG bisa jadi karena kedekatan dia dengan agen IVG yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Pamannya adalah seorang Lurah Karangduren. Lurah Karangduren ini terkenal sangat loyal kepada pemerintah Belanda (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
       Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda mendobrak pertahanan RI di Tengaran. Saat pertahanan TNI di selatan Kali Tanggi dapat ditembus, para pejuang mundur ke arah Selatan (menuju Ampel), ke arah Barat (menuju lereng Gunung Merbabu) dan ke arah Timur (menuju ke Jembangan). Pasukan Clurut yang terdesak oleh Pasukan Belanda melarikan diri ke Masjid Kaliwaru. Di sana Kyai Mawardi sudah menunggu kedatangan Belanda dengan samurainya. Pasukan Belanda mengejar Pasukan Clurut sampai ke depan Masjid. Sebelum Belanda mengepung Masjid Kaliwaru, sebenarnya Kyai Mawardi bersama ke empat kyai yang berada di dalam Masjid Kaliwaru dapat meloloskan diri ke arah Timur menuju Durensawit, tetapi enggan mereka lakukan karena mereka ingin membakar semangat juang anak asuhnya yang sempat turun morilnya saat mereka mundur ke Masjid Kaliwaru. Masjid Kaliwaru akhirnya dikepung oleh ratusan serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Untuk mengangkat moril anak asuhnya, dengan semangat jihad fi Sabilillah, Kyai Mawardi dengan gagah berani melawan kepungan Belanda dengan samurai peninggalan jaman Jepang. Meskipun diberondong peluru dia tidak mati. Bahkan, dari pihak Belanda banyak jatuh korban karena sabetan samurai Kyai Mawardi tersebut. Tentara Belanda yang umumnya masih berusia remaja secara psikologis morilnya sudah turun. Hal itu disebabkan karena teman-teman mereka banyak yang tewas di tangan TNI maupun laskar non TNI. Mereka yang terluka maupun yang tewas langsung diangkut ke atas truk untuk dilarikan ke Salatiga (Jarkoni, wawancara 28 September 2013, Kusdi, wawancara 29 September 2013), dan Wito Turut, wawancara 30 September 2013).
            Ketika samurainya direbut seorang serdadu Belanda, samurai itu dihunuskan ke tubuh Kyai Mawardi. Akhirnya, Kyai Mawardi gugur tepat di depan pintu rumah haji Bakri. Dalam peristiwa tersebut gugur pula empat anggota dari Barisan Kyai Tengaran yang tidak mau menyerah. Mereka yang gugur adalah Kyai Saghoji, Kyai Bajuri, Kyai Amri, dan Kyai Dulbari (Jarkoni, wawancara 28 September 2013 dan Wito Turut, wawancara 30 September 2013).

Sumber:
Chusnul Hajati, dkk., 1997. Peranan Masyarakat Desa di Jawa Tengah dalam Perjuangan Kemerdekaan Tahun 1945-1949 Daerah Kendal dan Salatiga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Tashadi, dkk., 1997. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah Divisi Sunan Bonang. Surakarta: Yayasan Bhakti Utama.



Selasa, 15 Juli 2014

Tengaran Benteng Terakhir Republik Indonesia (Kota Solo) Saat Agresi Militer II

       Agresi Militer Belanda II dilancarkan bersamaan dengan serangan terhadap Ibukota RI di Yogyakarta. Pada tanggal 18 Desember 1948, Pasukan Belanda yang dikonsentrasikan di daerah Salatiga diberangkatkan menuju Kota Solo. Untuk melancarkan aksinya yang ke II, pesawat capung pengintai Belanda setiap hari berputar-putar di langit sektor PP4A Tengaran. Sore hari menjelang pergerakan pasukan ke Solo, sejumlah truk bertuliskan “Naar Solo” disiapkan dengan menarik persenjataan berat. Pagi hari tanggal 19 Desember, Belanda menembakkan kanon ke arah Selatan dari Ngebul (Chusnul Hajati, dkk., 1997:139). Sebagai dampaknya banyak korban dari rakyat dan pertahanan TNI tercerai-berai. Dalam serangan  kanon tersebut jatuh korban seorang wanita bernama Isah yang tinggal di Desa Tengaran (Wito Turut, wawancara 30 September 2013).  Serangan kanon dari Ngebul dilakukan untuk membuka jalan bagi konvoi Belanda yang akan menyerang Kota Solo. Konvoi serdadu Belanda dari Salatiga selalu diawali dengan vorijder atau pasukan yang bertugas mengawal konvoi di barisan paling depan yang biasanya mengendarai motor. Setelah vorijder, baru disusul tank, lalu rombongan truk pengangkut prajurit. Konvoi tersebut juga mendapat kawalan dari udara oleh pesawat Cocor Merah (Chusnul Hajati, dkk., 1997:139).
19 Desember 1948, Daerah Tengaran Hujan Kanon dan Mortir
       Meskipun pihak Indonesia sudah menghancurkan jembatan Kali Tanggi, dengan mudah mereka memasang jembatan belley sehingga pasukan mereka dapat terus bergerak maju. Kendaraan berat jenis buldozer milik Belanda dengan mudah menutup lubang-lubang yang dibuat sebagai rintangan oleh pejuang RI yang membentang dari Kali Tanggi hingga Boyolali. Kayu-kayu besar yang melintang di jalan dengan mudah dibersihkan sehingga Belanda dapat mengepung pejuang RI di Tengaran (Jarkoni, wawancara 28 September 2013 dan Kusdi, wawancara 29 September 2013).
       Pergerakan Pasukan Belanda untuk melumpuhkan daerah Tengaran sangat cepat. Letkol Slamet Riyadi memerintahkan anggotanya merobohkan jembatan Ampel. Bersamaan itu, dia memerintahkan agar pasukan TNI dan Laskar-Laskar non TNI yang bertahan di Tengaran melakukan gerakan mundur ke arah Selatan dan ke arah Barat (Lereng Gunung Merbabu) (Suratman Murbowijoyo, wawancara 22 September 2013).        Di Kaliwaru pecah pertempuran besar antara pihak Republik dan Belanda. Benturan dari TNI yang dibantu masyarakat melawan Belanda tidak dapat dihindarkan lagi. Dalam pertempuran tersebut gugur lima orang kyai yang dihormati masyarakat Tengaran. Kelima kyai tersebut termasuk dalam Barisan Kyai Tengaran. Mereka adalah Kyai Mawardi (Ketua NU Tengaran), Kyai Zahrodji, Kyai Badjuri, Kyai Amri, dan Kyai Dulbari. Mereka terjebak dalam kepungan musuh sewaktu TNI melakukan gerakan mundur. Mereka menolak untuk menyerah dan terus melawan hingga akhirnya mereka gugur (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 139).
       Sebelum kekuatan utama TNI di Tengaran dapat dipukul mundur ke arah Solo, Belanda berusaha menerobos dari dua sayap pertahanan PP4A yang berada di sebelah Barat dan Timur. Di sebalah Barat, Belanda menyerang Ngaglik dari Setugur, dari arah Timur Belanda menyerang pos pertahanan RI di Karangwuni dari Dusun Gading (wilayah pendudukan). Pertahanan PP4A di bagian timurlah yang dapat ditembus Belanda terlebih dahulu. Kemudian Belanda bergerak ke Sruwen. Dari Sruwen Belanda memecah pasukannya untuk mengurung gerak mundur TNI yang akan lari ke Ampel. Belanda selanjutnya bergerak ke Kalisoko. Di Kalisoko banyak pejuang RI yang ditangkap. Mereka kemudian digiring ke Kaliwaru untuk diinterogasi (Kusdi, wawancara 29 September 2013)..
       Pejuang yang tertangkap oleh Belanda sebelum dan sesudah doorstoot banyak yang direkrut Belanda untuk dijadikan mata-mata Belanda. Mereka yang nasionalismenya tipis, dengan mudah menerima tawaran tersebut. Mereka diadudomba untuk memerangi saudaranya sendiri, pejuang Indonesia di Tengaran. Saat doorstoot anggota Belanda banyak yang berbuat ceroboh. Mereka menembak mati setiap warga yang dicurigai sebagai pejuang Republik Indonesia. Korban keganasan Belanda dari rakyat sipil salah satunya adalah Muhadi. Muhadi disangka oleh Belanda sebagai pejuang Republik Indonesia. Muhadi diculik Belanda dan rencana dibawa ke Kembangsari. Saat akan dibawa ke Kembangsari, Muhadi memberontak dan melarikan diri. Ketika akan melarikan diri Muhadi ditembak mati oleh serdadu Belanda dan akhirnya meninggal dan dimakamkan di Tempat Makam Umum (TPU) Dusun Ngesrep, Desa Tegalrejo (Wito Turut, wawancara 30 September 2013).
       Pada tanggal 21 Desember 1948, Belanda sudah menguasai Kota Solo. Setelah Kota Solo dikuasai, mereka mempertahankan jalan yang menghubungkan jalan Solo-Semarang. Jalur Solo-Semarang merupakan urat nadi untuk menguasai pedalaman Jawa Tengah. TNI berusaha mengimbangi ofensif Belanda dengan menggeser pasukannya dari Lawu mendekati Semarang. Brigade V TNI dipecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok wingate dan wehrkreise (WK). WK merupakan pusat pertahanan dan perlawanan gerilya yang dilancarkan secara luas dan didalam wilayahnya terdapat daerah-daerah basis, sekaligus sebagai daerah pangkalan gerilya. WK dilengkapi dengan kekuatan satuan-satuan tempur (Batalyon-batalyon infanteri), Komando Teritorial, Sub-Wehrkreise (SWK), Pasukan Mobil, satuan-satuan bantuan tempur dan bantuan administrasi (SESKOAD, 1990: 175). Kelompok WK dilaksanakan oleh Yon 4 Mayor Suharto. Suharto melaksanakan gerakan mengikat dan melakukan kontak pada instansi teritorial setempat. Sementara itu Yon 1 Mayor Sunitiyoso, Yon 2 Mayor Suradji dan Yon 3 Mayor Sudigdo berwingate. Mereka bergerak ke daerah pendudukan sambil menyiapkan field preparation pada sel-sel gerilya di daerah pendudukan. Slamet Riyadi yang dikawal dua kompi gabungan dari Yon 1 dan Yon 2 berusaha berwingate ke daerah Salatiga dan Semarang. Pelaksanaan wingate  ternyata mengalami kendala. Cuaca buruk di musim penghujan menghambat gerakan. Yon Sunitiyoso akhirnya tetap berada di Klaten, Yon Suradji tertahan di sekitar Merbabu dan Yon Sudigdo tertahan di Wonosegoro (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 140).
konvoi pasukan Belanda
       Sesuai dengan Maklumat Panglima Markas Besar Komando Djawa (MBKD) No. 2 tanggal 22 Desember 1948 tentang pembentukan Sistem Pemerintahan Militer, Pemerintahan Militer disusun dari gabungan pemerintahan militer-sipil dari tingkat Kecamatan hingga Karesidenan. Dengan adanya perubahan formasi tersebut Karesidenan Semarang menjadi wilayah WK III dibawah pimpinan Letkol Sudiarto. Yon Sudigdo dan Yon Suradji kemudian dimasukkan ke WK III. Untuk menghindari sergapan musuh, TNI mundur ke pedalaman dan tersebar di berbagai tempat yaitu di Pantaran, Gubuk, Seboto, Karangtalun, Kradenan, Canggal, dan Pager. Dalam formasi WK III ini, pemerintah Kabupaten Semarang digabungkan ke dalam pemerintahan militer pimpinan Kapten Ashari dan Kota Salatiga digabungkan dengan pemerintahan militer pimpinan Lettu Ngaspirin yang bermarkas di Desa Kradenan, Kaliwungu. Komandan pemerintah militer Susukan dipegang oleh Letnan Imam Suhardjo didampingi oleh Camat Suharno yang bermarkas di Klari sedangkan markas Pemerintah Militer Kecamatan Tengaran berada di Pager (Chusnul Hajati, 1997: 145).
       Setelah Tengaran didoorstoot, Belanda menempatkan satu kompi pasukan baret hijau dengan senjata lengkap di Randusari (Timur pasar Tengaran). Penempatan satu kompi baret hijau di Tengaran tidak lain hanyalah untuk mempertahankan jalur utama Semarang-Solo. Usaha mempertahankan jalur Semarang-Solo tidaklah mudah bagi Belanda. Dari pihak Belanda banyak memakan korban ketika berusaha mengedrop pasukan dari Semarang ke Solo. Seperti halnya akhir Januari 1949, Letda Sudarkoco memerintahkan enam pemuda Tengaran yaitu Sugianto, Kusdi, Tulus, Jupri, Sukijan dan Amat untuk menanam ranjau darat di Jembatan Krakal. Satu truk dari konvoi Belanda dari arah Solo hancur (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 145).
       Bulan Januari hingga Maret 1949, Belanda leluasa mengirimkan pasukannya ke Solo. TNI yang masih terpisah-pisah saat mundur dari Tengaran, sengaja membiarkan Pasukan Belanda masuk Kota Solo.Untuk memperkuat kedudukannya di Solo, Kolonel Ohl memperkuat pasukannya di Boyolali dengan menempatkan satu Brigade Green Cup di Bangak, Banyudono. Saat Belanda di Boyolali, Lettu Sumitro Komandan COP Sektor II Ngaglik mundur ke daerah Cepogo. Di sana Lettu Sumitro  membentuk Pusat Pertempuran Sementara (PPS) Divisi IV yang beroperasi di sekitar Boyolali. Selama di Cepogo, Pasukan TP dari Batalyon 100 menjadi tulang punggung TNI dalam penghadangan konvoi Belanda di daerah Ampel (Sidik Suwarno, wawancara 14 Januari 2014). Saat TNI menyusup ke daerah pendudukan, Belanda semakin terkurung di kota-kota saja. Jalan Semarang-Solo merupakan ladang pembantaian bagi konvoi Pasukan Belanda sejak  bulan Maret 1949. TNI maupun laskar yang sudah berpengalaman menghadapi Belanda menjadi ancaman serius yang sebelumnya tidak dipikirkan dampaknya oleh Belanda saat mendoorstoot Solo. Di Kaligentong Ampel, vorijder yang sedang mengawal konvoi Belanda dihabisi oleh anak buah Sumitro bernama Kusdi. Kusdi berani melakukan penghadangan karena ingin membalas kematian ayahnya. Di saat vorijder itu datang dari arah Salatiga, satu dari dua vorijder berhasil ditembak mati oleh Kusdi. Vorijder tersebut berhasil diidentifikasi bahwa dia berasal dari kesatuan Anjing Hitam NICA dengan pangkat sersan. Setelah vorijder itu jatuh, kemudian Kusdi mengambil uang Rp. 6000,00 dari saku mayat tersbut dan juga menggondol machine pistol dan pistol  milik serdadu Belanda yang tewas tadi (Kusdi, wawancara 29 September 2013).
       Doorstoot Belanda di sektor PP4A berdampak pada terhentinya anggaran rutin dari pemerintah pusat kepada semua kesatuan, jawatan, dan instansi. Sesuai Instruksi Panglima MBKD Nomer 4/MBKD/49 tanggal 1 Januri 1949, suplai logistik untuk tentara menjadi tanggung jawab Pemerintah Militer Kabupaten (PMKB). PMKB harus bisa memenuhi kebutuhan logistik untuk pasukannya dengan cara apapun seperti mengumpulkan logistik dari rakyat maupun merampas dari musuh. Di Tegalrejo, setelah pasukan TNI masuk ke daerah pendudukan, dapur umum dikelola oleh masyarakat setempat. Karena terjadi kelangkaan beras, biasanya dapur umum Tegalrejo menyediakan nasi jagung lauk sayur. Kalau beruntung, Pasukan TNI yang berwingate dapat merasakan tempe goreng pemberian warga (Mujiyem, wawancara 12 Januari 2014). Selain di daerah Tegalrejo Tengaran, dapur umum juga didirikan oleh masyarakat di Balai Desa Urut Sewu dan Mrican Kecamatan Ampel. Dengan demikian jelas bahwa sumber utama dukungan logistik TNI di bekas PP4A diperoleh dari rakyat (Sidik Suwarno, wawancara 14 Januari 2014).
Keterbatasan Alat Tempur Tidak Menjadikan Para Pejuang Tengaran Ciut Nyali Meskipun Berhadapan Dengan Tank Belanda
       Setelah bertempur kurang lebih enam bulan, Pasukan Belanda mengalami kekalahan besar. Belanda hanya berkuasa atas kota-kota saja, seperti Semarang dan Salatiga. TNI yang tadinya terpukul, menjadi memukul. Setelah melakukan wingate dari Solo dan Yogya ke daerah pendudukan, Pasukan Belanda terkepung di daerah Solo. Bantuan pasukan dari Salatiga terhenti di daerah Tengaran dan Boyolali. Setiap hari Zeni Tempur Belanda harus membenahi jembatan-jembatan yang rusak akibat bom-bom milik pejuang. Di Ampel, pasukan gerilya yang terdiri dari rakyat mulai berani mengepung pos-pos Belanda (Sidik Suwarno, wawancara 14 Januari 2014).
        Pada 3 Agustus 1949, tercapailah gencatan Senjata. Setelah dinilai aman, Pada bulan November aparat pemerintah RI PMKB Semarang dan Salatiga diikuti Pemerintah Militer Kecamatan (PMKT) Bringin dan Tengaran mulai meninggalkan Susukan menuju Sruwen dan Bener Tengaran. Pada 19 Desember, Yon Suradji sudah berada di Tingkir dan Ngaglik. Sementara Bupati Semarang Sumardjito dan Kepala Polisi Sutardjo sudah masuk ke Salatiga untuk membicarakan penyerahan Salatiga ke tangan Republik. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, wilayah RI dipulihkan kembali. Baru tanggal 29 Desember Kota Salatiga resmi masuk Republik Indonesia diikuti kecamatan-kecamatan di sekitar Salatiga (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 150).

SUMBER:
  • Chusnul Hajati, dkk., 1997. Peranan Masyarakat Desa di Jawa Tengah dalam Perjuangan Kemerdekaan Tahun 1945-1949 Daerah Kendal dan Salatiga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.  
  • SESKOAD. 1990. Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta Latar Belakang dan Pengaruhnya. Jakarta: PT. Citra Lamtoro Gung Persada.

Kamis, 10 Juli 2014

Peran Masyarakat Tengaran Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (Revolusi Fisik 1947-1949)

1. Peran Pamong Desa
       Sejak perang melanda Kota Semarang, Ungaran, Ambarawa, Salatiga, dan Tengaran bagian Utara, maka daerah perbatasan seperti Tengaran banyak dilalui pengusi yang berasal dari daerah yang diduduki Belanda. Mereka ada yang sekedar melewati Tengaran dan ada juga yang menetap di sana. Dalam hal ini pamong desa mempunyai peran sangat penting karena di desa-desa yang ditempati pengungsi, tugas pamong desa mengkoordinir warganya untuk memberi tempat penampungan maupun memberi makan untuk pengungsi. Pada umumnya, warga desa menerima para pengungsi dengan senang hati dan tangan terbuka. Sebagai balasannya para pengungsi berusaha membantu pekerjaan tuan rumah (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 133).
Akibat Kolonialisme, Rakyat Semakin Miskin, Bahkan Pakaian Mereka Hanya Terbuat Dari Bekas Karung Goni
     Pamong desa mempunyai jabatan strategis karena mereka sebagai panutan warganya dan para pengungsi. Begitu strategisnya jabatan pamong desa, Pemerintah RI dan Belanda menyadari arti pentingnya pamong desa dalam merebut simpati rakyat. Setelah Salatiga dikuasai Belanda, banyak desa tidak mempunyai pamong desa. Mereka memilih mengungsi ke wilayah Republik. Akibatnya, di daerah yang diduduki Belanda kekurangan penguasa. Oleh karena itu, Belanda menunjuk pamong desa baru untuk menggantikan pamong desa yang ikut hijrah ke daerah Republik. Pamong desa sebagai pejabat federalis di daerah pendudukan nasibnya kurang menguntungkan. Mereka selalu dicurigai oleh kedua pihak. Supaya mereka tidak dibunuh atau dijebloskan ke penjara, mereka harus pandai berkepala dua. Strategi berkepala dua resikonya sangat besar (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 134).
      Dari 20 desa yang ada di Kecamatan Tengaran hanya empat pamong desa yang pro Belanda, yakni pamong Desa Bener, Karangduren, Cukil dan Regunung (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 134). Selama Belanda menduduki sebagian besar Kecamatan Tengaran, Wedana Tengaran, Wiryo dan Camat Tengaran, Siswo, secara diam-diam mengadakan pertemuan rahasia. Wedana Tengaran berkantor di Desa Tingkir (wilayah pendudukan) tetapi hatinya tetap RI. Dia sering mengirim peluru secara ilegal kepada para pejuang RI. Dia juga mengusahakan beras dan pakaian bagi pejuang RI. Kondisi selama perang, tentara RI sangat menyedihkan. Mereka banyak yang kekurangan makanan dan pakaian. Bahkan mereka sampai kekurangan selimut untuk tidur. Selimut hanya selembar kain sarung hasil sumbangan dari masyarakat sekitar (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
     Jayus, Lurah Klero adalah lurah federalis yang dijebloskan ke penjara oleh Belanda. Jayus terbukti bersalah karena sering membantu para pejuang RI memata-matai pergerakan Belanda di Klero. Jiwa Republik Jayus terbentuk karena sebelum ditunjuk sebagai lurah dia bekerja sebagai anggota Polisi Tentara (PT). Jabatan lurah tidak membuat Jayus tunduk kepada Belanda, malahan dia selalu memonitori pergerakan Pasukan Belanda di Klero. Hasil monitoring dilaporkan kepada pemimpin pejuang RI yang bermarkas di Desa Tegalrejo. Pejuang RI yang akan menyerang pos Belanda di Klero harus ijin Lurah Jayus. Bisa dikatakan bahwa Klero merupakan wilayah kekuasaannya hingga pemimpin pejuang RI harus bermusyawarah dahulu dengannya sebelum menyerang dan untuk mengetahui posisi Belanda di sekitar Klero. Setelah perundingan Klero, Belanda giat melakukan screening atau pembersihan. Jayus sempat dicurigai bekerja untuk Republik. Dia dihajar agen IVG sampai wajahnya biru lalu ditangkap tetapi tidak sampai dieksekusi di Kedayon. Selain Jayus, Lurah Noborejo bernama Darma Kiyat juga berjiwa Republik. Dia menyelundupkan obat-obatan melalui kurir bernama Maryam yang menyamar sebagai pedagang. Obat-obatan tersebut diperoleh dari seorang mantri kesehatan benama Binoso yang bekerja untuk Pemerintah Belanda di Salatiga (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 128).
      Desa Tegalrejo merupakan garis pertahanan lini kedua di Sektor I Tengaran. Di desa ini, ribuan tentara RI berkumpul di Tegalrejo Lor dan Tegalrejo Kidul. Untuk mengatur logistik di Tegalrejo Kidul, didirikan dapur umum kecil di rumah Wito Surat dan dapur umum besar di rumah Suwar. Lurah Tegalrejo saat itu bernama Sudar. Dia menyuruh para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan membantu masak di dapur umum. Lurah Sudar dikenal baik kepada TNI maupun masyarakatnya. Seperti halnya ketika Sudar membagikan nasi dari dapur umum kecil kepada masyarakatnya, dia tidak pernah membuat perbedaan alias semua harus rata. Selain mengkoordinasi dapur umum kecil, Sudar juga mengatur tempat istirahat TNI di rumah-rumah milik warganya (Mujiyem, wawancara 12 Januari 2014).
    Tidak semua lurah berpihak dengan pemerintah RI, salah satunya adalah Lurah Karangduren. Lurah Karangduren merupakan agen IVG. Sebagai Agen IVG dia bertugas mencari orang-orang Republik yang berbahaya bagi Belanda. Setelah Lurah itu menemukan orang yang dicurigai sebagai mata-mata, lalu ia melapor kepada pimpinan IVG. Dari laporan tersebut kemudian Pasukan Belanda yang bertugas menangkap orang yang diduga berbahaya bagi pemerintah Belanda di Tengaran. Mereka yang ditangkap akan diinterogasi tentang keterlibatannya membantu Pemerintah RI. Siksakan fisik juga dilakukan oleh agen IVG agar orang yang diduga pembantu Republik mengakui kesalahannya. Apabila orang tersebut terbukti dengan sengaja membantu RI dan membahayakan Pemerintah Belanda, mereka akan dihukum mati di Kedayon. Sedang untuk kesalahan ringan seperti ketahuan membantu logistik pejuang RI, mereka dipenjarakan di Ambarawa maupun di Nusa Kambangan.

2. Situasi di Tengaran (Republik)     

     Dengan ditetapkannya garis demarkasi di sepanjang aliran Kali Tanggi, kesibukan masyarakat desa-desa di Kecamatan Tengaran bagian selatan semakin meningkat. Masyarakat yang tinggal di desa-desa seperti Tengaran, Tegalrejo, Sruwen dan Sugihan harus merelakan rumahnya untuk dijadikan markas, asrama, pos Palang Merah Indonesia (PMI) dan dapur umum. Masyarakat desa yang dipimpin oleh pamong desa wajib melakukan ronda setiap malam untuk menjaga keamanan desanya (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 134).
     Dapur umum didirikan berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Dapur umum dapat dibedakan menjadi dua macam yakni, dapur umum besar dan dapur umum kecil. Dapur umum besar diselengarakan oleh Comando Operasi Pertempuran setempat yang dibiayai langsung oleh pemerintah RI. Dapur umum besar fungsinya untuk melayani logistik bagi pasukan resmi dalam jumlah yang besar. Di sektor PP4A dapur umum besar didirikan di Desa Tegalrejo dan Desa Kaligentong. Dapur umum besar hanya dikhususkan untuk TNI yang kebetulan singgah maupun yang bergerilya di sektor PP4A. Untuk memasak nasi, dapur umum besar biasanya menggunakan drum karena bahan yang dimasak sangat banyak. Petugas dapur umum terdiri dari Laskar Putri dan anggota TNI. Operasional dapur umum mendapat bantuan tenaga dari masyarakat setempat. Bagi masyarakat yang menyumbangkan jasa, mereka mendapat imbalan berupa setengah liter beras (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 135). 
         Di Desa Tegalrejo terdapat dua dapur umum. Dapur umum besar diselenggarakan dan dibiayai oleh Pemerintah terletak di Dusun Tegalrejo Lor (di rumah Suwar). Sedangkan, dapur umum kecil terletak di Dusun Tegalrejo Kidul (di rumah Wito Surat). Berbeda dengan dapur umum besar, dapur umum kecil diadakan oleh masyarakat desa dengan biaya dari masyarakat setempat. Dapur umum kecil dikoordinasi oleh pamong desa. Bahan yang dimasak di dapur umum kecil dikumpulkan dari masyarakat kemudian diserahkan pada pejuang yang melewati desa ataupun singgah di desa. Bahan yang dimasak tidak banyak hanya cukup untuk dua sampai tiga regu. Di samping itu, adapula penduduk yang memberikan makanan bagi pejuang sebagai tanda simpati (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 135).
        Tanah ladang di Desa Tegalrejo banyak yang terbengkalai karena ditinggal berjuang maupun mengungsi pemiliknya. Beras pada saat itu sedang langka karena produksi beras RI tidak banyak. Kalaupun ada beras, kualitasnya jelek dan banyak kutunya. Sebagai penggantinya, mereka makan apa saja yang dapat ditemui seperti ketela rambat dan singkong. Laskar gerilya tidak masuk dalam formasi TNI. Kebutuhan logistik laskar gerilya sepenuhnya bergantung pada pemberian masyarakat. Biasanya hubungan gerilyawan dan masyarakat setempat sangat dekat. Bahkan masyarakat ada yang menganggap sebagai anaknya sendiri. Masyarakat tidak sampai hati menelantarkan mereka kelaparan. Kesadaran masyarakat setempat yang tinggi membuat para gerilyawan tetap militan di sektor PP4A karena tidak kekurangan logistik selama ikut dengan penduduk setempat. Selama menganggur atau lepas jaga, mereka membantu pekerjaan penduduk di ladang sebagai tanda terimakasih karena sudah disediakan tempat tinggal dan dicukupi logistik selama bergerilya di sektor PP4A (Mujiyem, wawancara 12 Januari 2014). 
      Pasukan Clurut bukan termasuk TNI sehingga mereka tidak mendapat jatah makan dari dapur umum. Meskipun begitu, mereka tidak mati kelaparan. Mereka berjuang dengan modal sendiri yaitu dengan membawa makanan dari rumah mereka masing-masing. Memang, kadang-kadang mereka diberi nasi nuk (nasi jatah) dari dapur umum, tetapi tidak rutin seperti halnya anggota TNI. Selama di Tegalrejo, Pasukan Clurut hidup penuh kebersamaan. Mereka tidak mementingkan ego pribadi melainkan nasib kelompok. Suatu ketika menjelang Belanda melakukan doorstoot ke Tengaran, mereka bersama-sama merebus tempe pemberian warga. Meskipun hanya sedikit, tempe yang direbus tadi tidak dimakan perseorangan tetapi dibagi rata hingga semua yang pada saat itu berkumpul di rumah Dullah Sadjadi mendapat bagian sama rata (Mujiyem, wawancara 12 Januari 2014).

3. Jaringan Komunikasi
 
        Tengaran bagian Selatan bukan sebagai daerah penampungan pengungsi karena daerah ini adalah konsentrasi pertahanan RI untuk membendung gerak maju Pasukan Belanda yang ingin menduduki Kota Solo. Masyarakat Tengaran yang dahulunya hidup di satu daerah harus tersekat semenjak diberlakukannya pembagian wilayah karena perbedaan haluan politik pemerintahnya. Meskipun begitu, ikatan antara masyarakat bagian utara (Pendudukan) dan bagian selatan (Republik) tidak terputus. Masyarakat yang tinggal di daerah pendudukan banyak yang mengunjungi saudara-saudaranya di pengungsian maupun sebaliknya. Karena TNI terikat dengan perjanjian, mereka tidak dapat melewati garis status quo. Oleh karena itu kunjungan dari masyarakat yang berasal dari daerah pendudukan dimanfaatkan TNI untuk menggali informasi mengenai kekuatan Belanda di daerah pendudukan (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).   
        Tengaran bagian Selatan merupakan target tembakan kanon Belanda dari Kebonjeruk. Oleh Sebab itu, keamanan pengungsi menjadi prioritas RI.  Agar para pengungsi terhindar dari pecahan peluru kanon, mereka ditempatkan di daerah aman yaitu di Desa Patemon (daerah SQ) dan Kembang, Ampel. Desa Kembang dianggap lebih aman karena terletak di lereng Gunung Merbabu dan letaknya jauh dari jalan raya Solo-Semarang. Tempat itu memiliki persediaan air yang melimpah sehingga pengungsi tidak kekurangan air (Suratman Murbowijoyo, wawancara 22 September 2013).
Seorang Pedagang Sedang Memperhatikan Pengumuman Pembebasan Kota Salatiga dari Pihak Recomba di Depan Pasar Salatiga
      Saat terjadi eksodus penduduk secara besar-besaran dari daerah pendudukan ke daerah pedalaman, gejala yang muncul di daerah pedalaman adalah pasar tiban atau pasar dadakan.  Awalmulannya pasar resmi berada di Tengaran, karena di Tengaran sering diganggu oleh Belanda,  maka pasar pindah ke Gatak. Di Gatak juga diganggu oleh Belanda lalu pindah ke pasar Sri Badak, Kembang (Kusdi, wawancara 29 September 2013). Selama pasar resmi pindah di Kembang Ampel terjadi kelangkaan barang pokok yang dibutuhkan seperti pakaian dan garam. Kelangkaan barang tersebut terjadi karena adanya penumpukan pengungsi di Kembang dan sedikitnya pasokan barang dari daerah Republik. Untuk mengatasi kelangkaan barang itu peran pedagang pelintas batas menjadi sangat penting. Pedagang pelintas batas, selain berdagang dengan menyelundupkan barang dari daerah pendudukan juga berperan sebagai mata-mata RI. Tak jarang dari mereka juga menyelundupkan peluru dan obat-obatan (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
        Untuk menyelundupkan barang dari daerah pendudukan ke daerah Republik, prosesnya sangat sulit. Mereka harus berhati-hati ketika melewati pos penjagaan Belanda yang tersebar di sepanjang jalan Noborejo sampai Kali Tanggi. Meskipun secara de facto daerah Republik terus dipersempit, para pedagang bisa keluar masuk di wilayah pendudukan. Daerah status quo merupakan daerah yang paling sulit untuk ditembus. Mereka harus melewati jalan setapak (jalan tikus)  untuk menghindari patroli Pasukan Belanda. Sesampainya di daerah Republik, mereka juga belum aman. Patroli pasukan RI  selalu mengintai mereka. Apabila mereka dicurigai sebagai mata-mata Belanda, mereka akan dibunuh (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).
        Pada bulan Juli 1948, Belanda berencana membatasi masuknya orang-orang Republik ke daerah Pendudukan. Kebijakan ini berlaku bagi pedagang pelintas batas. Mereka diharuskan memiliki “surat pas jalan” agar bisa melintasi garis demarkasi. Surat pas jalan adalah surat ijin bagi masyarakat Pendudukan untuk melintasi batas demarkasi dari daerah Pendudukan ke daerah Republik maupun sebaliknya.  Selain itu mereka juga diwajibkan memiliki surat tanda penduduk untuk memudahkan petugas membedakan orang Republik dan orang Pendudukan (Sin Po, 5 Juli 1948 kol.4).
        Kelompok gerilya yang berperan dalam kegiatan komunikasi adalah Barisan Clurut atau Pasukan Clurut. Dalam bahasa Jawa clurut adalah nama binatang sejenis tikus. Mobilitas yang tinggi diperlukan untuk bergerak cepat membawa informasi dari satu tempat ke tempat lain. Pasukan Clurut berasal dari kelaskaran Islam yaitu Hizbullah-Sabilillah pimpinan Kapten Kyai Mawardi. Selain sebagai kurir surat, mereka juga dilatih untuk menyusup di pos musuh. Sebagai halnya Barisan Maling, mereka menguasai ilmu sirep dan ilmu kebal. Dengan ilmunya itu mereka mudah menyusup ke markas musuh (Chusnul Hajati: 1997: 136). Di daerah Ngaglik (Sektor II), Pasukan Batu sangat aktif memantau pergerakan Belanda. Komunikasi antara Pemimpin Batu dan markas Polisi Keamanan di Kadang berupa lembaran-lebaran surat. Biasanya isi surat tersebut adalah laporan mengenai penerobosan yang dilakukan oleh Pasukan Belanda di daerah SQ.
       Untuk mengantisipasi salah sasaran, setiap hari penjaga di daerah SQ selalu diberi sandi kata ketika berhadapan dengan penjaga yang sama-sama memihak RI. Sandi kata ini bertujuan untuk membedakan antara kawan dan lawan. Sandi kata sudah disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan sifatnya rahasia. Hanya anggota kelompok saja yang tahu. Suatu ketika pada tahun 1948 Pasukan Clurut sedang berjaga di Dusun Ngesrep, Tegalrejo. Mereka bertemu dengan TNI dari Tengaran yang sedang berganti jaga. Agar tidak terjadi tembak-menembak, Jarkoni anggota Pasukan Clurut yang berjaga di Ngesrep berteriak kepada rombongan TNI itu “telo” (ketela rambat) dijawab anggota TNI itu dengan “boleng” (setengah cacat dan rasanya pahit). Karena jawabannya benar, mereka diperbolehkan berjalan ke daerah Selatan (Jarkoni, wawancara 28 September 2013).

4. Situasi di Tengaran (Daerah Pendudukan)

            Jatuhnya Kota Salatiga berdampak pada banyaknya pengungsi yang mencari tempat aman di luar Kota Salatiga. Biasanya pengungsi dipimpin oleh pamong desa yang berkuasa sebelumnya. Karena pamong praja juga pindah ke wilayah Republik otomatis terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah pendudukan Belanda. Untuk mengisi kekosongan, Belanda membentuk pemerintah Recomba (Regerings Comisie voor Bestuurs Angelegenheden) atau pangreh praja. Belanda memanfaatkan pegawai-pegawai Indonesia yang tidak ikut mengungsi ke wilayah Republik untuk dijadikan aparatur pemerintah Pendudukan (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 127).
        Di daerah yang diduduki Belanda, mata uang Jepang dan mata uang Republik Indonesia (ORI) diganti dengan mata uang NICA sebagai alat pembayaran yang sah. Pemerintah Belanda mendirikan Algemene Distributis Dienst (ADD) yang berfungsi untuk mengurusi kesejahteraan pegawai dan pekerja. ADD memberi bantuan  berupa susu, keju, roti, metega dan hampir semua kebutuhan sehari-hari dengan harga jual yang murah. ADD dijadikan alat propaganda bagi Belanda untuk menarik simpati orang-orang Republik agar mau pindah ke wilayah Belanda. Jawatan Penerangan Regerings Voorlichting Dienst (RVD) bertugas menyiarkan propaganda Belanda untuk menanamkan kepercayaan kepada masyarakat agar mau berpihak kepada Belanda. Sedangkan Dienst der Leger Contacten (DLC) bertugas memberikan doktrin-doktrin kepada tentara Belanda Koninklijk Leger (KL) dan Koninklijk Nedherlands Indische Leger (KNIL) tentang tugas suci Belanda di Indonesia (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 127).
      Secara bertahap, masyarakat yang tadinya mengungsi kemudian kembali ke Kota  Salatiga karena mereka tidak tahan dengan penderitaan selama berada di daerah pengungsian. Roda ekonomi berjalan kembali dengan dibukanya pasar-pasar. Bahasa Belanda ditetapkan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pendudukan, posisi mereka terjepit dan banyak yang menderita. Mereka dicurigai kedua belah pihak karena dianggap sebagai mata-mata. Meskipun berada di wilayah pendudukan Belanda, banyak diantara mereka jiwanya tetap Indonesia. Masyarakat yang jiwanya tetap Indonesia, dimanfaatkan oleh TNI sebagai mata-mata Republik. Mereka memberi informasi, menyediakan tepat berlindung dan mengkoordinir/mensuplai logistik ketika pejuang Republik menyusup ke dalam kota (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 129).
        Banyaknya penduduk yang keluar masuk wilayah pendudukan, membuat Belanda kuatir akan adanya penyusupan oleh pejuang Republik. Pada bulan Juli 1948, Belanda berencana mengatasi banyaknya penduduk ilegal yang berasal dari wilayah Republik. Orang-orang Republik yang tadinya bebas melewati daerah pendudukan, setelah diberlakukannya passenstelsel atau larangan untuk memasuki daerah pendudukan, mereka harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dapat masuk ke wilayah pendudukan misalnya mereka adalah anggota Palang Merah atau keluarga tawanan (Sin Po, 5 Juli 1948 kol. 4).
     Untuk menjaring informasi, Belanda menyebar mata-mata dibawah Intelichtingen Veiligheids Grouep (IVG). Kekejaman mereka tidak kalah dengan Kenpetai di jaman Jepang. Susunan staf IVG Salatiga sebagai berikut (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 129):
Komandan                       : Lettu Draaisma
Wakil Komandan             : De Liezer
Anggota Tim Screening    : Van Beeks, Hiks, Sutayo, Saban Purnomo, Temu, Sunaryo Holan Sumodilogo                                             Sunawan, Parwoto dan Tan Soen Am .
Kepala Staf                      : Sersan Michael alias Djajusman digantikan Tommy Suryadi
Penyelidik                        : Sersan Swart (Kepala),
                                         Sastra Suratman (Wakil Kepala)
                                         Diaenur, Rasmal Slamet dan Gito (anggota)
    Setelah wilayah Tengaran dibagi menjadi dua yaitu daerah Republik dan daerah pendudukan, Belanda dibuat kewalahan dengan munculnya aksi-aksi gerilya seperti penyergapan patroli, serangan gelap, sabotase dan penyusupan ke dalam daerah pendudukan. Terhadap orang-orang seperti itu, Belanda dengan rutin melakukan screening atau pembersihan. Pejuang yang tertangkap oleh IVG Salatiga mengalami siksaan yang berat. Mereka yang terbukti bersalah karena melawan Belanda akan dieksekusi di Kedayon. Untuk mengeksekusi pejuang, Belanda telah menyiapkan satu peleton algojo dari Brigade Tijger (Brigade T). Sedangkan apabila melakukan kesalahan sedang mereka akan dimasukan ke penjara Nusa Kambangan dan Ambarawa (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 129).
      Belanda juga dibantu oleh pasukan bersenjata yang direkrut dari etnis Cina yang diberi nama Po An Tui. Masalah rasial digunakan oleh Belanda untuk memojokan RI di pecaturan politik dunia. Sejumlah harian Cina seperti Kenapo, Sin Mi-in dan Sin Po yang terbit di daerah pendudukan, mendukung Belanda dalam mengabarkan berita mengenai masalah diskriminasi ras yang diterima etnis Cina selama berada di pengungsian (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 129).
Penderita Kaki Gajah- Akibat Blokade Ekonomi yang Dilakukan Oleh Belanda Menyebababkan Menipisnya Stok Obat-obatan di Republik Indonesia yang Berdampak Pada Menurunnya Kualitas Kesehatan Penduduk  
     Meskipun dalam tekanan, banyak orang yang hidup di daerah pendudukan namun jiwanya tetap Republik. Sebagai contoh adalah Mantri kesehatan Binoso, secara diam-diam dia mengirim obat-obatan secara ilegal ke daerah Republik dan mengadakan kontak rahasia dengan Lurah Noborejo. Selanjutnya obat-obatan yang diperoleh dari Binoso oleh Lurah Noborejo dikirim melalui pedagang lintas batas bernama Maryam ke wilayah Republik. Di Klero, juga terdapat seorang Republik bernama Jayus yang menjadi Lurah Klero. Ia mengabdian dirinya kepada RI dengan membantu memberi informasi kepada pejuang RI tentang aktifitas Belanda di Klero (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 128).
      Sungguh mulia hati mereka, disaat mereka punya kesempatan menduduki posisi penting di daerah Pendudukan, mereka memilih untuk setia kepada Republik Indonesia, merelakan nyawa dan harta mereka untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
 
Sumber Arsip/Pustaka:
  • Chusnul Hajati, dkk., 1997. Peranan Masyarakat Desa di Jawa Tengah dalam Perjuangan Kemerdekaan Tahun 1945-1949 Daerah Kendal dan Salatiga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  • Passenstelsel masoek daerah pendoedoekan. Sin Po, 5 Juli 1948, kolom 4.
 Sumber Gambar:
  • gahetna.nl