Sabtu, 30 Agustus 2014

Grebeg Kendalisodo Sebagai Wujud Pelestarian Budaya dan Media Inovatif untuk Sosialisasi Ideologi Bangsa

Prolog...!
Awal mula perkenalanku dengan Grebek Kendalisodo dimulai tahun 2012. Waktu itu, aku dan teman-teman seangkatanku (12 orang) mendapat tugas final makul Metodologi Penelitian Sosiologi-Antropologi. Oleh dosen kami Pak T, kami disuruh membuat proposal penelitian tentang masyarakat dan kebudayaan (untuk latihan skripsi).
Seingatku, waktu itu aku bikin proposal penelitian tentang Tawuran Pelajar di Kota S (samaran), James (Bang Jem) tentang Pengobatan Tradisional Dayak Kanayatn, Landak Kalbar, Aris (Mbahe) tentang Anak Jalanan di Kota Amb (samaran), Logos tentang Alih Fungsi Hutan Adat menjadi Perkebunan Sawit di Sangg, Kalbar (samaran), Eko (Kentus) tentang Faktor punahnya tarian Jalantur di Dusun Gowok Pos, Dukun, Muntilan (mungkin juga punahnya Jalantur dari dunia), dan Adit (Bre) tentang Grebek Kendalisodo, Bawen.
Well, langsung saja ke pembahasan judul yang tertera diatas.
Apa itu Grebeg Kendalisodo?
Grebeg Kendalisodo adalah sebuah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Karangjoho. Masyarakat mengarak hasil bumi yang ditata menyerupai gunngan, sabit, pacul dan garuda Pancasila keliling desa-desa di sekitar lembah Kendalisodo. Puncak dari acara ini adalah penjamasan lambang negara Indonesia (Burung Garuda Pancasila). Selain penjamasan terhadap burung garuda juga dilakukan penjamasan terhadap sabit dan cangkul. Sabit dan cangkul merupakan simbol kemakmuran masyarakat Karangjoho karena sebagian besar masyarakat Desa itu berprofesi sebagai petani.  
Dimana Grebeg Kendalisodo diadakan?
Grebeg Kendali Sodo diadakan di Desa Karangjoho. Wilayah Karangjoho secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang Jawa Tengah.
Apa yang melatarbelakangi diadakannya Grebeg Kendalisodo dan Jamasan Pancasila?
Diadakannya Grebeg Kendalisodo di Desa Karangjoho tidak terlepas dari legenda Hanoman yang menguasai Gunung Kendalisodo. Sebenaranya, kata gunung yang melekat pada nama Gunung Kendalisodo hanyalah sebuah istillah saja, karena Gunung Kendalisodo bukan berwujud gunung sungguhan melainkan hanya sebuah bukit kecil yang terletak di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Gunung yang terbentuk dari letusan Gunung Api Ungaran purba ribuan tahun yang lalu ini dipercaya oleh warga sebagai tempat tinggal Hanoman (Kera Putih).
Hanoman adalah anak Bathara Guru dari istri Anjani. Sebelum jadi Resi Mayangkara, Hanoman kecil pernah menyucikan dirinya di Sendang Cupumanik. Dari Sendang Suci itu, ia mendapat kesaktian yang luar biasa.
Kesaktian Hanoman tidak perlu diragukan lagi. Selama perang Antoro, Hanoman mampu mengimbangi kekuatan pasukan Prabu Dasamuka. Setelah perang Antoro yaitu perang antara Prabu Rama Wijaya melawan Prabu Dasamuka berakhir, kemudian Hanoman mengabdikan dirinya untuk Prabu Sri Bathara Krisna. Prabu Sri Bathara Krisna memerintah Hanoman untuk tinggal di Gunung Kendalisodo. Alasannya adalah untuk menjaga kententraman manusia dari angkara murka.   
Apa Hubungan Sendang Cupumanik dengan Jamasan Pancasila?
Jamasan Pancasila bertujuan untuk menyucikan Pancasila (Lambang Negara Indonesia). Jamasan dilakukan di sendang kecil di Barat Desa Karangjoho. Mengingat legenda yang berkembang turun-temurun di masyarakat lembah Gunung Kendalisodo tentang keperkasaan Hanoman setelah menyucikan diri di Sendang Cupumanik, maka panitia penyelenggara dan masyarakat pendukung tradisi Grebeg Kendalisodo berharap setelah Pancasila dijamas, negeri Indonesia ini akan terbebas dari penyakit (kemerosotan moral: korupsi, kolusi, nepotisme). Jamasan bukan hanya dilakukan pada burung Garuda, melainkan juga pada cangkul dan sabit petani. Cangkul dan sabit merupakan simbol kesejahteraan penduduk karena mayoritas penduduk Karangjoho berprofesi sebagai petani. Setelah simbol masyarakat agraris itu dijamas, mereka berdoa agar tanah di lembah Kendalisodo diberi kesuburan juga diberi kemudahan air oleh Yang Maha Kuasa supaya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama.
Kapan Grebeg Kendalisodo pertama kali diadakan?
Pada tanggal 10 Sura 1419 H (1997 M), cikal bakal Grebeg Kendalisado pertamakali digelar. Awalmulanya Grebeg Kendalisodo dikenal dengan nama Sedekah Bumi Kendalisodo. Acara ini difokuskan hanya di Sendang Cupumanik. Waktu itu yang menjadi Kuncen Gunung Kendalisodo dan Sendang Cupumanik adalah Eyang Marsidi. Eyang Marsidi mengajak segenap masyarakat sekitar Sendang agar mau bersedekah bumi dalam rangka Memayu Hayuning Bawono. Menurut Frans Magnis Suseno (1983: 51-52), Memayu Hayuning Bawono adalah sebuah sikap manusia yang tidak memaksakan diri pada sesuatu (orang, binatang, tumbuhan, batu atau sungai) tetapi mau menghormati, membiarkan berdampingan dalam irama tersendiri, dan bebas mencari kebebasannya. Sikap ini sangat berbeda dengan sikap acuh tak acuh. Respon positif dari masyarakat terhadap acara Grebeg Kendalisodo ditunjukan dengan banyaknya masyarakat membawa jajanan pasar, buah-buahan dan sesaji ke Sendang Cupumanik. Hingga tahun 1998, acara selamatan di Cupumanik masih berlanjut. Perubahan kegiatan acara dimulai tahun 1999. Acara yang biasanya hanya berlangsung di Cupumanik, mulai tahun itu semakin semarakan dengan  adanya kegiatan grebeg (semacam pawai) mengelilingi desa-desa di sekitar Gunung Kendalisodo. Grebeg Kendalisodo berbeda dengan grebeg-grebeg di daerah lain. Biasanya, grebeg hanya mengarak tumpengan atau pusaka kramat saja. Namun, yang menjadi keunikan dari grebeg Kendalisodo adalah peserta grebeg mengarak burung Garuda Pancasila ke desa-desa yang berada di lembah Kendalisodo dengan puncaknya adalah jamasan burung Garuda Pancasila di Cupumanik. Kemudian  dilanjutkan dengan acara rebutan gunungan oleh warga dan makan bersama di sana.
Apakah ada nilai-nilai kemanusiaan dibalik terselenggaranya Grebeg itu?
Grebeg Kendalisodo sebenarnya mengandung banyak nilai kemanusiaan. seperti Ketuhanan, Kerukunan, Gotong-royong, Nasionalisme dll. Sebagai contoh semisal nilai Ketuhanan. Masyarakat pendukung Grebeg ini percaya dengan diruwatnya simbol kesejahteraan mereka (cangkul dan sabit ‘arit’), Tuhan Yang Maha Esa akan memberi kesejahteraan berupa kesuburan tanah dan melimpahnya air untuk mendukung kegiatan ekonomi mereka. Nilai Kerukunan dapat dicerminkan dari berbaurnya masyarakat luar desa yang mayoritas menjadi penonton Grebeg dengan masyarakat Karangjoho. Nilai Gotong-royong, dilihat dari kerjasama dalam membuat gunungan. Membuat gunungan tidaklah mudah, karena itu diperlukan kerjasama (baik jasa/materi) agar gunungan dapat terisi penuh dengan buah-buahan, sayur-sayuran dan jajanan pasar. Nilai nasionalisme, dapat dilihat dengan arak-arakan lambang negara Indonesia. Secara laten Grebeg ini sebenarnya mensosialisasikan ideologi Pancasila kepada masyarakat khususnya anak-anak dan pemuda dengan kegiatan yang menarik dan cara baru (inovatif). Diharapkan selain mencintai budaya daerahnya (peserta parade ada Reog, Angguk, Jatilan, Grup Pencak Silat dll.),  mereka juga akan mencintai bangsanya.  
Kembali ke Alur Ceritera!
Yuppp... setelah satu tahun observasi, kita memasuki tahun baru yakni 2013. berikut ini merupakan ceritera Grebeg Kendalisodo (GKS) tahun 2013. 
Gak perlu panjang lebar, langsung pada intinya saja. Saat itu aku dan Mbahe diajak Bre bantu  penelitian Skripsinya... Kami siapkan 5 kamera untuk menyambut datangnya acara ini (esok harinya 18 Nopeber). Namun, karena sibuk di basecamp (rumah Pak Rahmad) kami lupa charge kamera yang kami bawa.
Malam Minggu, 17 Nopember 2013. aku dan kedua sahabatku mengikuti tirakatan di Sendang Cupumanik sekaligus mendengarkan arahan dari sang sutradara (Mbah Rahmad Kendalisodo)
nah ini dia sutradara dibalik pagelaran Grebeg Kendalisodo, Mbah Rahmaddddd....
Kira-kira jam 9.00 malam, Pak Bupati datang. Kemudian memberi sepatah dua patah kata...
Saya kurang paham siap yang menjadi juru kunci Sendang Cupumanik, sepertinya sih bapak ini...

Nah, ini yang namanya Adit (Bre). Entah mengapa, selama penelitian di sana dia fokus sekali menyimak percakapan bapak-bapak dan ibu-ibu. udah kaya wartawan aja Bre... bree...

Ingin merasakan khasiat Air Sendang Cupumanik, Aris (mbahe) membasuh muka di sendang itu. dan hasilnya...... tetap ganteng.
Ingkung, Kluban, Tempe, Gereh Teri... Nyumiiiii...!

Ibu (temanya bu Dayu) membagikan telo-pogong-kacang hasil alam Desa Karangjoho kepada hadirin.

Makan Bersama

Dahar nopo kalih napa mbah??

Bu Dayu and friends dahar pincukan

Pak Bowo (Dinas Pariwisata) memotong tumpeng setelah didoakan bersama (doa Islam, Hindu, Kejawen)

Enak ora brow?
 Esoknya, acara Grebeg Kendalisodo dimulai. Seperti biasa, kita dandan ala wong Jowo...
podo ngomongke opo to mas? mbok ya cepet ganti pakean...

Selama dua periode (GKS 2012 dan 2013)  mbah ini tidak pernah ketinggalan merayakan GKS...

Desa Karangjoho masih sepi karena strart diawali dari dekat RS Ken Saras
 Lalu kami diangkut dengan Colt Brondol L 300 menuju tempat dimulainya grebeg berlangsung. Aku tidak tahu nama daerahnya. tapi sepanjang jalan, yang aku temui adalah sawah, kemudian masuk ke pemukiman padat.
Nah, disini grebeg KS dimulai... heheheh
ati-ati yo mas, abot songgone kwi... heheheh
Kemudian kami berjalan sepanjang 4 kilometer bahkan lebih. sengaja kami tidak memakai sandal agar terlihat ampuh and sakti mandraguna,,,,
hahah dapat pinjaman bendera. lumayan buat narsis "meskipun fokus kameramen ke mobil oprut itu :( "....

yah kurang lebih beginilah kondisi kami, nyeker biar keliatan ampuh... heheheh
Setelah berjalan 4-5 KM, kami sampai di pertigaan Karangjoho. Di sana mbah Rahmad, Bu Dayu, Pak Camat membacakan sambutan-sambutan. sayang file dalam bentuk video, jadi tidak bisa dipampang. ada sih sudah aku upload video itu di fb. mulai dari awal sampai akhir berdurasi 8 menit. silakan klik VIDEO GREBEG KENDALISODO 
Tangan Bre bergetar (alias Tremor) maklum sudah mbah-mbah

Ubo rampe buat ritual... heheheh
  Kemudian kami berjalan bersama ke Barat menuju Sendang Cupumanik. Dari pertigaan desa Karangjoho menuju ke Sendang jaraknya sekitar 500 meter.
Setelah di doakan para imam dengan doa lintas agama, Burung Garuda Pancasila dijamas (dimandikan), anak-anak sangat antusias menyaksikan jamasan Pancasila ini. Bu Dayu menyorakan "MERDEKA", anak-anak membalas dengan sorakan yang sama "MERDEKA" 

Baik di dalam ruangan dan di Pelataran Sendang Cupumanik, gunungan setelah di doakan menjadi rebutan warga. dalam waktu 1 menit, gunungan sudah habis diperebutkan.

Dari Kiri (Pak Bowo, Aku, Pak ?, Bu Ida Ayu (Dayu), Pak ?, Adit Brengos, Mbah?). Tanda ? berati aku tidak tahu nama-nama beliau.

Nah, dibalik gambar-gambar ini ada peran mbahe untuk mendokumentasikannya.
 Setelah acara puncak, dilanjutkan dengan hiburan rakyat seperti jatilan, reog, kuda lumping, pertunjukan pencak silat, campur sari dll. di pertigaan Desa Karangjoho
Reog bukan, topeng ireng juga bukan. aku namakan sendiri saja seni tari Gatotkaca

Sebelum digunakan untuk pentas, topeng terlebih dahulu diasapi dengan dupa

Nah kalau ini Reog tanpa kuda... heheheh

Penonton sangat antusias menyaksikan pertunjukan kesenian rakyat, meskipun harus hujan-hujanan.

Ampun Reog...

santai belum kesurupan...
Grebeg Kendalisodo yang diadakan di Desa Karangjoho, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang ini sebenarnya bisa dijadikan aset Pariwisata Kabupaten Semarang. Namun sayangnya, Publikasi even ini tidak segencar even-even lain semisal Dieng Culture Festival. Semoga dihari kedepan Publikasi Event bisa dilakukan jauh hari sebelum acara dimulai supaya bisa mengundang banyak wisatawan yang berminat menjadi partisipant dalam event ini.
Acara ini resmi ditutup pada pukul 6.00 sore...  Upsss... sebelum aku akhiri cerita ini, aku ajak saudara-saudara sekalian kembali lagi ke masa lampai yakni 3 jam sebelum acara ini resmi ditutup...
Gak usah dipikir sepaneng, monggo ududdd dulu...! :D

Sekian cerita dari aku hari ini... KENALI NEGERIMU CINTAI BUDAYAMU... Dankeee....... Bye byee :D?

Kamis, 28 Agustus 2014

Buka Luwur Sebagai Sarana Pemersatu Masyarakat Pantaran, Ampel, Boyolali


Islamisasi di daerah Pantaran
Penyebaran Islam di Pantaran, Ampel, Boyolali yang dilakukan oleh Syech Maulana Malik Ibrahim Maghribi memakai cara damai. Sama dengan yang dilakukan para wali-wali lainnya, pengenalan Islam kepada masyarakat dengan jalan penuh kebijaksanaan tanpa disertai peperangan. Pada saat itu Syech Maulana Ibrahim Maghribi berhasil menyatukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra Islam sehingga hidup dan berkembang menjadi budaya baru tanpa menghilangkan unsur-umsur kebudayaan yang ada (sinkretisme budaya Islam-Pra Islam). Secara etimologis sinkretisme berasal dari bahsa Arab, dari kata Syin  dan Kretiozein yang berarti memperpadukan unsur-unsur yang saling bertentangan. Sedangkan dalam bahasa Inggris sinkretisme berasal dari kata syncretism yang berarti campuran, gabungan, perpaduan, dan kesatuan. Jadi sinkretisme adalah paham atau aliran baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan dan sebagainya (Sutiyono, 2010: 41)
Syech Maulana  Ibrahim Maghribi mengajarkan Islam tanpa ada paksaan atau kekerasan. Supaya tidak tejadi konflik dengan  masyarakat setempat yang masih berpegang teguh terhadap ajaran nenek moyangnya (pra Islam), Maulana  Ibrahim Maghribi  menggunakan cara yang bijaksana dan toleransi dalam sosialisasi Islam, yaitu menyesuaikan dengan adat istiadat yang sudah ada. Setelah penguasa Pantaran dapat di Islamkan, Syech Maulana Ibrahim Maghribi mulai mendidik agen penyebar Islam (read: murid). Ia menggunakan padepokan Ki Ageng Pantaran sebagai tempat berdakwah dan mencetak kader untuk meneruskan perjuangannya dalam penyebaran Islam di luar Pantaran.
Prasasti yang terletak di depan pintu masuk Makam Ki Mataram.
Sinkretisme Jawa Islam merupakan percampuran antara Islam dengan unsur-unsur lokal Jawa. Sehingga Islam tidak lagi tampil dalam wujudnya yang asli, teteapi sudah bercampur dengan budaya Jawa. Ketika Islam datang, proses transmisi Islam berlangsung secara damai tanpa kekerasan. Kehadiran Wali Sanga di wilayah Jawa yang dianggap sakti dan berilmu tinggi dapat menggabungkan budaya Jawa dengan budaya Islam. Keduanya bergabung menjadi Islam Jawa atau  yang disebut Islam Kejawaen (Suwardi Endraswara, 2006: 82). Islam Kejawen kemudian berjalan selaras dengan perpaduan antara budaya Islam dan tradisi Kejawen. Keselarasan ini kemudian melahirkan tradisi baru bagi pendukungnya yaitu sebuah upacara bernama slametan (upacara keselamatan)
Biasaya, para wali dalam memulai dakwahnya (Islamisasi) selalu diawali dengan mendirikan masjid. Masjid digunakan untuk sosialisasi bagi masyarakat luas yang masih terpengaruh dengan agama Hindu dan Buddha.  Oleh sebab itu, para wali dalam membuat masjid bentuk bangunannya disesuaikan dengan bentuk bangunan bercorak Hindu (masjid dengan atap bersusun).
Syech Maulana  Ibrahim Maghribi mengajarkan Islam tanpa ada paksaan atau kekerasan. Supaya tidak tejadi konflik dengan  masyarakat setempat yang masih berpegang teguh terhadap ajaran nenek moyangnya (pra Islam), Maulana  Ibrahim Maghribi  menggunakan cara yang bijaksana dan toleransi dalam sosialisasi Islam, yaitu menyesuaikan dengan adat istiadat yang sudah ada. Setelah penguasa Pantaran dapat di Islamkan, Syech Maulana Ibrahim Maghribi mulai mendidik agen penyebar Islam (read: murid). Ia menggunakan padepokan Ki Ageng Pantaran sebagai tempat berdakwah dan mencetak kader untuk meneruskan perjuangannya dalam penyebaran Islam di luar Pantaran.

Latar Belakang Digelarnya Upacara Buka Luwur
Dalam rangka membina dan mengembangkan kebudayaan nasional perlu memperhatikan kebudayaan daerah karena kebudayaan daerah berfungsi sebagai salah satu faktor pendorong dan pengembang kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah merupakan filter atau penyaring terhadap masuknya unsur-unsur budaya asing. Unsur-unsur tadi tidak semuanya ditolak, tetapi hanya unsur-unsur yang bertentangan dengan kepribadian bangsa saja yang tidak diadopsi.
Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim Mahgribi di Pantaran, Ampel Boyolali.
Menurut Purwadi (2005: 1), Upacara tradisional merupakan salah satu wujud peninggalan kebudayaan. Kebudayaan adalah warisan sosial yang dapat dimiliki oleh masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Upacara tradisional terdiri dari suatu rangkaian atau perbuatan yang terkait dengan aturan-aturan tertentu menurut adat yang mengalir dalam kelompok (Koenjtaraningrat, 1980:181).
Prosesi upacara tradisonal Buka Luwur digelar di dukuh Pantaran, Candisari, Ampel, Boyolali. Upacara ini sudah menjadi adat yang bersifat umum. Tradisi Upacara Buka Luwur diselenggarakan setiap tahunnya oleh masyarakat Pantaran sebagai penghormatan terhadap jasa Syech Maulana Ibrahim Maghribi yang telah mencurahkan perhatiannya pada bidang agama dan kesejahteraan penduduk sekitar Pantaran sampai akhir hayatnya.
Tanggal meninggalnya Maulana Ibrahim Maghribi tidak diketahui dengan jelas tetapi secara turun-temurun masyarakat Pantaran menetapkan hari terakhir di bulan Syura antara tanggal 20 sampai 25 yang jatuh pada hari Jumat sebagai khol Maulana  Ibrahim Maghribi. Masyarakat Pantaran memperingatinya dengan upacara mengganti kelambu makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi.

Gotong-royong Warga Selama Prosesi Upacara Buka Luwur
Puncak dari prosesi upacara Buka Luwur  adalah mengganti kelambu lama yang menutup makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Surya Mataram, Ki Ageng Pantaran, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro dengan kelambu yang baru.
Menurut Budiono Herusatoto (1984: 98), tujuan upacara tradisional yang dilakukan oleh anggota masyarakat baik secara bersama maupun individu adalah supaya mendapatkan keselamatan agar dihindarkan dari segala bala (malapetaka). Upacara tradisional yang dilakukan secara berkala dapat mengingatkan masyarakat agar segala norma dan aturan dalam bertindak tidak menyimpang dari aturan-aturan atau norma yang ada dalam komunitas, karena jika terjadi penyimpangan akan menyebabkan kesengsaraan bagi masyarakat pendukung tradisi.
Sebenarnya, Prosesi Upacara Buka Luwur sudah dimulai sejak hari Rabu dan berakhir sampai hari Jumat. Terdapat dua panitia dalam upacara tersebut. Panita inti (kecil) adalah panitia yang bertugas mengurusi makam. Panitia inti anggotanya berasal dari masyarakat Pantaran yang ditunjuk untuk memelihara dan mengurusi makam Pantaran. Ketua dari panitia inti adalah juru kunci makam. Panitia besar juga dibentuk oleh Dinas Pariwisata Boyolali, biasanya diketuai oleh Camat Ampel.
Hari Rabu, para pemuda Pantaran memasang janur dan tebu hitam sebagai dekorasi disepanjang jalan menuju ke makam. Hari Kamis, Peziarah mulai banyak berkunjung ke Makam. Peziarah kebanyakan dari luar daerah. Di sana, mereka bertirakatan di sebuah rumah kecil di barat makam Pantaran. Di hari itu Panitia sudah disibukan dengan banyaknya peziarah. 
Narsis bersama juru kunci makam Lek Totok. hehehe
Hari Jumat pukul 06.00, sebelum kirab dimulai, masyarakat sekitar Pantaran terlebih dahulu mengganti pagar (bethek) yang mengelilingi makam umum Pantaran. Bethek dibuat oleh masyarakat dari beberapa  dukuh di sekitar Pantaran. Sebelum pemasangan bethek, mereka berdoa bersama (tahlilan). Setelah tahlil, bethek baru dapat dipasang.  
Pukul 08.00,  digelar kirab dari masjid Pantaran dan berakhir di makam Pantaran. Kirab diarak oleh ratusan orang. Parogo-parogo kirab berasal dari berbagai paguyuban seperti Paku Subo dan Rasa Sasmita Semarang. Mereka mengarak kembang dan mori baru untuk mengganti mori lama. Setelah sampai di depan makam, dilakukan serah terima dari parogo kirab berupa kembang dan mori kepada Bupati Boyolali, setelah itu Bupati menyerahkannya lagi ke Juru Kunci.  Saat serah terima mori dan kembang, ruang ziarah yang luasnya tidak lebih dari 8m x 8 m dikosongkan terlebih dahulu. Setelah itu, Juru Kunci masuk kedalam diikuti dengan Bupati untuk mengganti kelambu makam. Sebelum kelambu makam diganti,  Juru Kunci membacakan doa-doa. Kemudian setelah itu,  kelambu makam  yang pertama kali diganti adalah kelambu makam milik Syech Maulana Ibrahim Mahgribi, disusul Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram, dan terakhir kelambu makam milik Ki Ageng Kebokanigoro.
Setelah mori diganti, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Pertama sambutan selamat datang dari Camat disusul sambutan dari Bupati Boyolali. Setelah sambutan-sambutan selesai, seseorang membacakan sejarah dan legenda makam Pantaran. Lalu masyarakt melantunkan doa tahlil, kenduri, dan terakhir doa penutup untuk keselamatan mereka.
 Selain masyarakat Pantaran, kenduri juga diikuti oleh masyarakat desa Sampetan, desa Ngargoloko, dan Desa Ngadirojo, Ampel (yang menggunakan air dari mata air Pantaran). Uniknya, warga membawa tumpeng sendiri-sendiri dan dimakan bersama-sama.
Setelah acara kenduri berakhir, masyarakat diperbolehkan masuk ke ruang ziarah untuk melakukan sungkem pada makam. Setelah itu dilanjutkan pembagian takir dan kain mori oleh panitia. Kain mori penutup makam dipotong kecil-kecil supaya menjadi banyak. Tiap warga yang beruntung, mendapat kain mori dengan lebar sekitar 1cm dan panjang sekitar 1m. Pembagian mori berlangsung hingga sore hari, tetapi harus dihentikan sementara karena diselingi sholat Jumat berjamaah di masjid Pantaran.
Perlengkapan upcara Buka Luwur sangat sederhana. Alat-alat yang disediakan oleh panitia yaitu kitab bacaan untuk tahlil dan surat yasin. Alat tersebur disediakan dengan maksud  agar dapat digunakan oleh  para peziarah yang lupa/tidak membawa kitab tahlil/yasin. Sebab, bacaan bacaan-bacaan dari kitab suci tersebut merupakan sarana bagi masyarakat utuk mengagungkan nama Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga dipersiapkan alat-alat lainnya untuk membongkar kelambu makam, antara lain gunting dan mori baru.
Kehidupan manusia adalah sebuah dinamika. Dinamika ini tidak pernah berhenti, melainkan tetap terus aktif. Dinamika manusia inilah yang memadukan antara manusia dengan sesamanya dan dengan dunia lingkungannya (Nursid Sumaatmadja, 1986: 22). Dinamika ini merupakan ungkapan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai mahluk sosial yang hidup seiring dengan perkembangan jaman, akan melahirkan masyarakat gotong royong. Gotong royong dapat diterapkan dalam hal kematian, pekerjaan sekitar rumah tangga, pesta-pesta (perkawinan, hajatan lain) dan hal pekerjaan untuk kepentingan bersama atau umum (Koentjaraningrat, 1977: 77).  Konsep gotong royong merupakan suatu konsep yang erat sangkut pautnya dengan kehidupan rakyat sebagai petani dalam masyarakat agraris. Dalam kehidupan masyatakat desa di Jawa, gotong royong merupakan suatu sistem penyerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk (Koentjaraningrat: 1992: 56)
Prosesi upacara Buka luwur dapat mencerminkan sikap kegotong-royongan masyarakat Pantara. Kegotong-royongan pada kegiatan Upacara Buka Luwur merupakan hal yang sangat penting dan patut kita banggakan karena ada semangat kebersamaan, keakraban, tolong-menolong dan sebagainya sebagai modal persatuan Indonesia.
Akhir dari prosesi upacara Buka Luwur di Pantaran adalah sadranan. Masyarakat Pantaran membuka pintu rumah mereka untuk semua tamu yang berziarah ke makam Pantaran. Meskipun mereka tidak mengenal siapa tamunya, mereka dengan senang hati menyuguhi tamu mereka dengan makanan seadanya sesuai dengan kemampuan mereka.
Solidaritas masyarakat mengandung pengertian sifat rasa senasib atau perasaan setia kawan  dalam sebuah masyarakat (Fuad Hasan, 1988: 853). Dengan diadakannya Prosesi Upacara Buka Luwur, kegiatan ibu-ibu yang memasak untuk suguhan kenduri di makam, para pemuda yang mengamankan lingkungan, bapak-bapak yag membongkar dan membagikan kelambu kepada warga,  dan juga warga sekitar yang suka rela memberikan sumbangan dana baik berupa uang maupun benda dapat dikatakan sebagai wujud solidaritas masyarakat.
Jika digali dalam-dalam, sebenarnya prosesi Upacara Buka Luwur yang diadakan oleh masyarakat Pantaran dapat dijadikan proyek percontohan untuk daerah lain dalam mengamalkan telos Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila kelima tersebut mengandung arti bahwa seyogyanya pembangunan kesejahteraan bangsa ini dilakukan dengan cara bergotong-royong. Nilai pembangunan dari sila ke-5 ini jugalah yang  menjadi motor penggerak bagi para Pendiri bangsa duhulu untuk berjuang memerdekakan bangsa ini dari ketidakadilan demi satu keinginan mulia, yakni untuk melihat bangsa Indonesia di masa depan, hidup sejahtera tanpa ada diskriminasi. Namun pada kenyataannya, saat ini apa yang terjadi?  Hanya anda yang mampu menjawab (dengan hati). 

Sumber:
  • Wawancara Kuncen Makam Pantaran (Lek Totok) 
Sumber Buku
  • Soekmono, R., 1973 .Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid III. Yogyakarta: Kanisius.
  • Budiono Herusatoto. 1983. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.
  • Fuad Hassan. 1988. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Koentjaraningrat. 1977. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
  • ______________. 1992. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustka Utama.
  • _______________. 1980. Pengantar Ilmu antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
  • Nursid Sumaatdja. 1986. Pengantar Studi Sosial. Bandung: Alumni.
  • Sutiyono. 2010. Benturan Budaya Islam Puritan dan Sinkretisme. Jakarta: Kompas.
  • Suwardi Endraswara. 2006. Mistik Kejawen, Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Spiritual Jawa. Yogyakarta: Narasi.