Pondok Pesantren Al Munawwir Gringsing - Batang

Ketidaksengajaan Guru yang Membawa Petaka bagi Anak Didiknya

Guru adalah profesi mulia. Mereka mengerahkan kemampuannya untuk mengembangkan manusia menuju kemuliaan. Meskipun begitu, masih ditemui guru yang tanpa mereka sadari ketika mengajar membawa petaka bagi anak didiknya. Berikut ini merupakan “ketidaksengajaan guru yang membawa
petaka bagi anak didiknya”. 
    Susahnya mengerjakan PR
  • Pandangan Negatif pada Siswa.
Tanpa disadari, guru mempunyai penilaian tertentu kepada anak didiknya. Penilaian tersebut bersumber dari keadaan eksternal dan internal pada anak didiknya. Penilaian yang bersumber dari keadaan internal semisal tingkat kepandaian, perilaku negatif, dan karakteristik khas teertentu pada siswanya. Kemudian penilaian yang bersumber dari keadaan eksternal berasal dari penilaian orang lain kepada siswa, misalnya Pak Adit adalah guru yang mengapu mata pelajaran sejarah kelas XII. Saat mengajar, dia mendapati seorang siswa kurang aktif  dalam bertanya. Kemudian pak Adit mencari informasi kepada guru lain kenapa hal tersebut bisa terjadi. Akhirnya Pak Adit  mendapat laporan dari guru yang pernah mengajar anak tadi bahwa anak itu sering melamun dan tidak serius ketika mengikuti pelajaran. Kemudian pak Adit melakukan tindakan khusus untuk mengajari siswa tadi dengan menggunakan suara bicara yang lebih keras dan lambat seolah siswa tadi tidak mendengar, menggunakan kosakata dasar dan kalimat mentah, jarang tersenyum, berinteraksi dengan gaya instruksional dan cenderung otoriter. Hal itu bisa membuat anak didik pak Adit semakin malas untuk belajar sejarah. Padahal pak Adit belum tahu permasalahan  pada anak didiknya. Bisa jadi yang salah berada pada metode pembelajaran Pak Adit yang dinilai tidak menarik bagi siswa tadi.
  • Mengajarkan “Tidak Bisa”
Suatu hari, Rudi mendapat Pekerjaan Rumah (PR) Matematika dari gurunya. Kemudian setelah pulan sekolah, dia mengerjakan PR itu tanpa dipandu orang tuanya. Setelah beberapa kali mencoba mengotak atik angka, akhirnya ia tidak mendapat jawaban yang benar. Saat itu Rudi mengalami jalan buntu dan akhirnya dia merasa tidak bisa mengerjakan PR itu. Esok harinyanya, ia berangkat ke sekolah. Kebetulan dia disuruh ke depan oleh gurunya untuk mengerjakan hasil PRnya di papan tulis. Diapun ke depan, mengerjakan sebisanya. Alhasil setelah ia berdiri mengotak atik selama 2 jam pelajaran, ia tidak menghasilkan jawaban yang benar. Kemudian dari mulut guru yang diyakininya sebagai orang hebat atau orang yang tau kapasitas Rudi keluar kalimat setengah jengkel “ piye to Rud, wes tak ajari bolan baleni kok tetep ora isa” (gimana sih kamu Rud, sudah saya (guru) ajari berkali-kali kok tetap tidak bisa). Ucapan guru Rudi membuat perasaan dan keyakinan Rudi semakin down sehingga berdampak pada diri Rudi yang tidak mau berusaha (motivasi rendah), pasif, atau mencari kompensasi untuk menarik perhatian dengan cara negatif.
  • Lebih Mudah Menyalahkan daripada Memuji
Semangat para guru untuk membuat siswa menguasai materi berdampak pada sikap menuntut dan mengharuskan siswanya agar dapat menguasai mata pelajaran yang mereka ampu. Seperti kasus Rudi diatas, seharusnya guru tidak melontarkan kata tajam dengan mimik muka jengkel saat siswanya mendapat kesulitan mengerjakan tugas. Dalam hal ini, guru kurang peka atas kondisi positif siswa yang layak mendapat pujian. Hal itu disebabkan karena guru tidak melihat proses anak didiknya selama mengerjakan PR. Seharusnya guru bertanya bagaimana proses mereka dalam mengerjakan PR supaya mengetahui berapa kali anak didiknya mendapat jalan buntu dan berapa kali mereka berusaha menemukan jawaban. Oleh sebab itu guru tidak boleh memberi umpan balik negatif, tetapi mereka tetap harus memberi umpan positif agar anak didiknya tidak down seperti memberi apresiasi“Nak, kamu sudah berusaha dengan giat dan baik, mari kita kerjakan bersama-sama “. Melihat kenyataan selama sekolah dari SD hingga lulus S1, kebanyakan guru tidak terlatih untuk memuji dan membesarkan hati anak didiknya, padahal anak-anak justru membutuhkan pujian yang tulus dan spontan guna membakar semangatnya.
  • Memunculkan Kekerasan di Kelas
Minimnya gambar dan alat peraga saat mengikuti pelajaran sejarah membuat imajinasi anak didik melayang tak terarah berusaha mengikuti alur tulisan yang ada di dalam buku ajar. Hal inilah yang dialami siswa-siswi SMA Dalimanisme. Ketika pak Adit bercerita tentang ciri-ciri manusia purba Pithecanthropus erectus (P.e), dengan becanda dan menghibur siswanya, ia menceriterakan  bahwa P.e seperti monyet tetapi bukan monyet, bentuk hidung tebal dan liar. Saat itu tatapan mata pak Adit mengarah kepada siswanya yang berhidung pesek yang sering membuat kebisingan di kelas. Siswa yang tertarik mendengarkan cerita pak Adit lalu mengikuti mata pak Adit menuju siswanya tadi. Pak Adit berkata “ Wah, kalau sering gojek dan pesek ya seperti P.e". Setelah jam pelajaran sejarah selesai, pak Adit keluar ruangan kelas. Kemudian siswa pesek yang suka membuat kebisingan tadi diejek oleh beberapa temannya sebagai P.e. Kisah tersebut menunjukan bahwa tanpa sengaja guru telah memberikan legitimasi kepada siswanya untuk melakukan kekerasan verbal. Ternyata apa yang dilakukan pak Adit tanpa kesengajaan tadi menjadi awal dari terjadinya kekerasan (bullying) di kelas.

Melihat kisah di atas, guru seharusnya “digugu lan ditiru”, bukan “diguyu lan disaru”. Jadi ketika mengajar, guru bukanlah pemilik mulut yang tugasnya berbicara, sedangkan siswa menjadi pendengar. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan secara totalitas, yaitu hubungan secara menyeluruh antara fisik, psikis, sosial, dan spiritual karena guru bukanlah robot yang apatis terhadap perasaan siswa maupun harga diri siswa. Guru adalah sutradara yang menanamkan tujuan baik bagi kemajuan bangsa dan negara di dalam diri siswanya agar siswanya menjadi manusia yang berketuhanan, berakhlak mulia, cerdas, dan santun dalam bertindak.
“You never forget a good teacher”

Sumber Buku:
Faturochman, dkk., 2012. Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Sumber Gambar
http://terrificparenting.com/homework-battles

No comments

Powered by Blogger.