Pondok Pesantren Al Munawwir Gringsing - Batang

Testamen untuk Tan Malaka


Sebelumnya Mimin tanya pada sahabat Story semua. Sahabat Story pernah denger nama Tan Malaka?. Memang tokoh satu ini jarang sekali kita dengar dari buku-buku pelajaran sekolah ya. Tapi taukah sahabat Story bahwa Revolusi Republik ini pernah akan diwariskan kepada Tan Malaka? Begini ceritanya.
Hatta tiba di Belanda untuk menjadi seorang komunis. Ternyata, karakter komunisme tidak cocok dengan wataknya. Semenjak di Belanda, Hatta berseteru dengan Semaun sejak itu Hatta mengkritik komunis. Pada masa pendudukan Jepang, terjadi konflik antara Tan Malaka dan Hatta. Tan Malaka menuduh Soekarno- Hatta berkolaborasi dengan Jepang. Seperti Hatta, Tan Malaka bukanlah orang sembarangan. Tan Malaka adalah tokoh yang pertama menggagas berdirinya Republik Indonesia. Niat mengeluarkan Testamen diucap Soekarno dalam rapat kabinet pada pekan ketiga september 1945. Bila sekutu menawan Soekarno, maka ia menyerahkan pimpinan revolusi kepada salah seorang yang mahir dalam berjuang tetapi Soekarno masih merahasiakannya. Ahmad Soebarjo tahu siapa yang dimaksud yaitu Tan Malaka. Soebarjo bisa tahu karena Tan pernah membicarakannya. Testamen sendiri akan terlaksana setelah Inggris mendarat dan Sekutu menangkap Soekarno karena dituduh berkolaborasi dengan Jepang.
Karena situasi sulit waktu itu, Soekarno bertemu dengan Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, dan Gatot Taroenamihardjo, dirumah Ahmad Soebardjo. Pada tanggal 30 September, mereka bersepakat menunjuk Tan Malaka sebagai ahli waris revolusi bila terjadi apa apa dengan Soekarno Hatta. Setelah pertemuan itu, kemudian Soekarno pergi ke rumah Hatta membicarakan pertemuan tadi, Hatta memberikan jawaban “Kenapa tidak bicara dulu kepada saya? Engau mestinya kenal baik siapa itu Tan Malaka.” Hatta menolak hasil pertemuan dan mengusulkan tongkat revolusi akan diteruskan oleh empat pemimpin. Tan Malaka mewakili aliran kiri paling ekstrim, Sutan Syarir dari kelompok kiri-tengah, Wongsonegoro wakil kalangan kanan dan feudal, serta Soekiman sebagai representasi kelompok Islam. Lalu Soekarno memerintah Tan untuk menyusun kata kata testamen, setelah setuju, naskah diketik Soebardjo dan dibuat rangkap tiga dan setelah semua setuju, Soekarno- Hatta menandatanganinya. Terungkap bahwa Soebarjo tidak mengirim surat itu kepada Sjahrir dan Wongsinegoro, keduanya baru tahu setelah Hatta memberi kabar. Hatta menduga Soebarjo dan kubunya kecewa wasia batal diberikan kepada Tan tetapi Soebardjo dalam bukunya, Kesadaran Nasional berdalih bahwa gonjang-ganjing revolusi menghambat penyampaian teks itu.
Keteguhan Tan yang gencar menentang perundingan dengan Belanda berujung pada penjara. Tan menentang kebijakan Diplomasi yang dijalankan triumvirat Soekarno- Hatta- Sjahrir. Ia tangkap bersama Sukarni, Caherul Saleh, Muhammad Yamin, dan Gatot Abikusno di Madiun pada 17 Maret 1946. Mereka dituduh akan melakukan kudeta, penahanan tersebut atas desakan Sekutu kepada Perdana Menteri Sjahrir agar peundingan berjalan lancar. Pada bulan September 1948 Tan Malaka dibebaskan dari penjara Magelang, Jawa Tengah. Ketika Tan Malaka mendapat restu dari Jenderal Soedirman untuk bergerilya di Jawa Timur, oleh Sungkono yang menjabat sebagai Panglima Divisi Jawa Timur, Tan dianjurkan bergerak ke Kepanjen, Malang Selatan. Namun, ia memutuskan pergi ke Kediri, disinilah menurut sejarawah Belanda, Harry Albert Poeze, Tan dieksekusi pada tanggal 21 Februari 1949.
 Nah, sahabat Story meskipun hari ini nama Tan Malaka asing dibenak kita, tetapi dijaman Kemerdekaan peranannya tidak dapat dianggap enteng, sebab ia menjadi pematik Api Revolusi Indonesia saat itu. Sehingga tidak heran, jika dahulu ia dipercaya oleh Sukarno untuk meneruskan pucuk pimpinan Revolusi Indonesia dari kelompok radikal kiri.

No comments

Powered by Blogger.