Pondok Pesantren Al Munawwir Gringsing - Batang

Kerajaan Aceh (Berdiri hingga Runtuh)


Latar Belakang

Kesultanan Aceh terletak di ujung utara Sumatra, tepatnya Aceh Utara. Kesultanan Aceh dirintis oleh Muzaffar Syah pada abad ke-15 M. Akan tetapi, status kesultanan penuh baru diperoleh di bawah pemerintahan Ali Mughayat.

Pada masa awal-awal pemerintahan Sultan Ali Mughayat, wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup Dava, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. 

Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537.

Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.

Raja-raja yang Berkuasa

Masa kejayaan Kesultanan Aceh terjadi pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). 

Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Bangsa Aceh juga meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Nusantara (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan) serta sebagian tanah Semenanjung Melayu.

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh, antara lain sebagai berikut.

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M).
2. Sultan Salahuddin (1528-1537 M). 
3. Sultan Alauddin Riayat Syah al Kahar (1537-1568 M).
4. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). 
5. Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M).

Kehidupan Politik

Pada tahun 1586, Kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu.

Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Malaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal karena adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang

Kehidupan Sosial Budaya

Kesultanan Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama yang hasil karyanya menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing. 

Mereka adalah Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin ar-Raniry dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Miraj al-Tulabb Fi Fashil. 

Kemunduran Kerajaan Aceh

Kesultanan Aceh mengalami kemunduran sejak Sultan Iskandar Tsani wafat pada tahun 1641. 

Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya makin menguatnya kekuasaan Belanda di Pulau Sumatra dan Selat Malaka. Belanda berhasil menguasai wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu. 

Faktor lainnya yang menyebabkan keruntuhan Kesultanan Aceh ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris takhta kesultanan.

No comments

Powered by Blogger.